..
Disusun
oleh :
1.
Riza Rahmah Angelia
2. Fahroziah Assyifa
3. Amalia Rizki Ramadhani
1.
Daftar isi ....................................................................................
2
2.
Biodata Penulis ....................................................................................
3
3.
Melatiku yang Hilang ..........................................................................
4
4.
Maju Mundur seperti Undur – Undur ..............................................
10
5.
Senyum dan Air Mata .......................................................................
15
6.
Syukuri Apa yang Ada ......................................................................
22
7.
Populasi Abadi ...................................................................................
26
8.
Secangkir Cinta di Sudut Kafe .........................................................
31
9.
Api yang Takkan Pernah Padam ......................................................
35
10. Kotak
Pandora
..................................................................................
44
11. Kehidupan
di Atas Atap ....................................................................
49
Biodata
Peserta lomba “KumCerku di Leutika Prio”
1. Nama Lengkap : Riza Rahmah Angelia
Tempat,
tanggal lahir :
Cirebon, 18 September 1995
Alamat : JL. Pekalipan Utara VII no. 12, Rt/Rw : 03/01, Kota Cirebon
Email :
rizarahmahangelia@yahoo.co.id
Facebook :
rahmah_alz_reen@hotmail.com
No.
Tlp/ hp :
(0231) 232908 / 0818239030
No.
Rekening :
2. Nama Lengkap : Fahroziah Assyifa
Tempat,
tanggal lahir : Majalengka,
13 Juni 1995
Alamat : JL. Ahmad Yani no. 37, Ds. Ciborelang, Kec. Jatiwangi, Majalengka
Email : ojji_assyifa@yahoo.co.id
Facebook :
chipph_me@yahoo.com
No.
Tlp/ hp :
087724303010
No.
Rekening :
3. Nama Lengkap : Amalia Rizki
Ramadhani
Tempat,
tanggal lahir : Purworejo, 20 Februari 1995
Alamat :
Jl. Jepara C 19 No. 21 Taman Nuansa Majasem RT/RW 02/15, Kota Cirebon
Email : rizki.amaliaa@ymail.com
Facebook : amaliaar@yahoo.com
No.
Tlp/ hp : 085797005234
No.
Rekening : 1000874643 (BRI SYARIAH)
karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Intan Puspitasari
Syukuri Apa yang Ada
(Riza Rahmah Angelia)
Dulu, aku hidup bahagia. Tetapi, kini semuanya
telah berubah. Hidupku tak seindah dulu. Kejadian itu telah merenggut
kebahagiaanku tak cukup sesaat. Dan hal ini tak mudah yang baru duduk di bangku
kelas 5 SD untuk menerima kenyataan pahit yang kuhadapi saat ini.
Tempo hari, di saat aku menangis pilu. Saat diri
ini tak percaya akan kenyataan yang terjadi. Ayahku pergi begitu cepat. Pergi
ke tempat yang tidak mungkin aku singgahi sekarang ini juga. Kata – kata yang
pedih di dengar namun fakta itu adalah meninggal. Ya, ayahku meninggal 2 tahun
silam. Berarti beliau telah meninggalkanku hingga kelas 1 SMP. Saat beliau tak
mampu lagi untuk menahan diri dari sakit yang dideritanya karena terkena peluru
tembakan di bagian dada. Naas memang, ayahku telah terbunuh oleh pemerintah
Belanda, beliau yang rela mengorbankan jiwanya demi aku, adikku dan ibuku telah
terbunuh di hadapanku.
Ibuku sempat tak sadarkan diri karenanya dan aku
mengalami trauma yang berkepanjangan hingga saat ini dengan suara tembakan,
tapi mungkin saat itu sudah takdirnya beliau untuk pergi meninggalkan orang –
orang tercintanya. Akhir – akhir ini aku mencoba untuk memberi pengertian
kepada ibuku, bahkan sanak saudara ibu yang lainnya. Sudah berkali – kali aku
mencobanya, tetap saja mereka tidak mengizinkanku dan berdalih bahwa sebenarnya
nenekku dari ayah telah melupakan dan tidak peduli terhadap kami lagi, semenjak
kematian ayahku.
“Tidak! Itu semua bohong! Kalian salah, nenek pasti
masih ingat kami dan masih sayang kami,” berontakku dalam hati. Aku tahu ini
semua berat, bila aku terus memberontak seperti itu kepada ibuku yang akan
membuat ibu semakin terpukul, dan merasa dirinyalah yang sangat bersalah. Aku
mengerti itu, juga aku mengerti makam ayah yang terlalu jauh untuk dikunjungi,
tidak memungkinkanku untuk pergi ke sana sendiri, bila aku harus memaksa
keadaan. Tetapi, aku rindu sekali dengan ayah.
Malam ini adalah malam ulang tahun ayahku. Karena
itu, aku pun teringat rekaman ulang
semua kejadian pilu itu. Aku tak menyangka bahwa saat aku kelas 3 SD, itulah
pertama dan terkahir kalinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun bersama.
Masih tergambar jelas senyum bahagia di wajahnya, menambah luka di hatiku yang
mungkin telah sempat mengering, tetapi kini kembali tergores.
Air mataku sekarang telah surut melihat kerja keras
ibuku seorang. “Kita harus tegar. Harus selalu bisa menatap masa depan yang
masih sangat panjang,” itulah yang selalu ibu ucapkan ketika upayaku sudah
mulai surut.
Hari demi hari, kami jalani dengan tabah. Begitu
sulitnya hidup tanpa seorang pemimpin yang handal, seorang kepala keluarga yang
layaknya seorang pria yang bertanggung jawab seperti ayahku yang telah tiada.
Akhirnya, ibuku memberi usul kepadaku bahwa sebaiknya kami mencari pengganti
seorang ayah. Pada awalnya, aku tidak setuju, sampai aku lebih memilih untuk
mati dari pada menyetujui dan melihat pengganti ayahku. Karena di mataku, hanya
ayahkulah satu – satunya seorang ayah yang sempurna. Namun, pada akhirnya aku
setuju dengan keputusan itu, karena tak
tahan akan tanggunya yang harus dipikul ibuku seorang diri.
“Tapi bukan maksudku agar semua orang kasihan
padaku, hanya saja supaya mereka semua mengerti dan harus bersyukur atas apa
yang telah Tuhan berikan, terlebih bagi mereka yang keluarganya masih lengkap.
Yah, sudahlah semuanya telah berlalu, mungkin ini memang sudah menjadi jalan
takdirku,” aku menghela nafas berat dengan teman baikku yang masih saja setia
mendengar semua kuakkan memori pahitku yang sudah lama terpendam ini.
Namun sepertinya, Dita sangat butuh untuk
menceritakan pengalamannya juga. Dan aku pun berjanji, sebagai temannya akan
selalu siap mendengar seluruh keluhannya dan menjadi penaungnya saat ia tidak
tahu harus kemana ia menaung kapanpun dan dimanapun.
“Ya sudahlah. Nirma. Allah telah menetapkan jalan
hidup yang berbeda – beda untuk setiap manusia di muka bumi ini,” kata Dita yang
membuatku lega dan tersenyum.
“Dita, makasih ya! Hari ini kamu sudah mau jadi
tempat sampah yang baik buatku, yang bisa menjadi tempat untuk membuang semua
rasa – rasa kekesalanku itu,” aku sangat bahagia saat itu. “Aku berdoa semoga
nanti malam, aku bermimpi bertemu dengan ayah dan dapat mengucapkan selamat
ulang tahun kepada ayah secara langsung.”
“Iyaa. Semoga saja doamu itu terkabul. Aku pun
turut senang kalau semua keinginanmu itu terkabul. Perbanyaklah berdoa kepada
Tuhan, ya!”
Aku tersenyum penuh harap, walaupun senyumku tidak
sepenuh harapan Nirma. Tak bisa kubayangkan, jika akulah yang mendapatkan
takdir yang sudah digariskan Tuhan seperti itu.
Keesokan paginya, kulihat wajah Nirma yang murung
yang membuatku kembali khawatir. Namun kutetap akan mencairkan suasana, “Tadi
malam, bagaimana?” tanyaku singkat. Terdiam, lama kumenunggu jawaban.
“Tak apalah. Yang penting aku telah mengirimkan doa
untuk ayah, sekalipun tadi malam aku tidak bermimpi tentangnya,” suara Nirma terdengar
lirih namun tegar.
“Sudahlah, yang telah berlalu, biarlah berlalu!”
aku mencoba untuk menghiburnya, takut kalau sampai Nirma bersedih hati, karena
keinginannya tidak tercapai.
“Tenang saja, aku sudah menyimpan kenangan pahitku,
supaya tidak menyurutkan perjuanganku hari ini, esok dan mungkin untuk
seterusnya,” akhirnya semangat Nirma muncul kembali dan segera bangkit dari
keterpurukan yang menekan batinnya selama ini.
“Yang penting sekarang..... Syukuri dulu saja apa
yang ada... karena di setiap kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan
yang Maha Kuasa.”
Sebulan telah berlalu, Nirma sudah melupakan
keterpurukan yang melandanya di masa lalu. Tiba – tiba di sekolah, ia berlarian
menghampiriku seperti akan membawakan berita baik kepadaku. “Alyaaaa!!! Tebak
deh, sesuatu apa yang mau aku ceritain ke kamu?” teka – tekinya dengan penuh
perasaan ceria.
“Apaan – apaan, Nirma? Pasti berita baik yaa?”
kataku yang sangat penasaran dengan itu semua.
“Emmmm.... minggu depaann. Ibukuuuu.... akan
mengadakan persepsi pernikahan!” katanya dengan penuh bahagia. Aku senang
melihat Nirma seceria itu, tidak seperti dulu yang terus bermuram durja. Namun
aku tidak mengetahui, apakah Nirma benar – benar senang, ataukah hanya mencoba
tegar atas kepedihannya. Lalu, kuberanikan diri untuk bertanya dengan penuh
kesopanan tanpa di luar batas.
“Nirmaa.. Kamu serius dengan keputusan itu semua,
kan? Kamu pasti bangga mempunyai papah, kan?” kataku meyakinkannya.
“Ng.... sebenarnyaa..” gumamnya tiba – tiba. Tapi
aku tak ingin apa yang tidak kuharapkan itu terjadi sekarang, yaitu berubah
pikiran.
“Ayolaahh, teman! Tidak selamanya keluarga tiri itu
menyusahkan. Pasti kamu sudah sepakat dan tidak ingin mengecewakan keputusanmu sendiri
dengan ibumu, kan?” kataku.
“Iyaa. Pasti, baiklah, kawan! Minggu depan hadirlah
di acara pernikahan ibuku! Datanglah bersama orangtuamu kau akan menjadi tamu
kehormatan keluargaku. Karena bagiku kau adalah sahabatku, dan ibuku tahu itu.
Oh, iya besok akan kuberi kalian undangan,” kata Nirma yang masih ceria.
Persepsi pernikahan telah dilaksanakan. Aku melihat
Nirma dan ibunya berjalan ke arahku, mamah, dan papahku yang sedang tersipu
malu karena keterlambatan kami untuk datang ke pesta pernikahan ibunya Nirma.
“Mari, mamahnya Alya! Duduklah di meja makan yang telah kami sediakan!” kata
ibunya Nirma dengan nada suara yang lembut.
“Oh, iya Bu, Mari! Terimakasih,” kata mamahku
dengan santun dan segera menuju ke meja makan yang sudah tertata rapih dengan
lilin dan berbagai makanan serta minuman yang sengaja telah dipersiapkan untuk
tamu kehormatan.
Nirma pun duduk di sampingku, begitu juga ibu dan
ayah barunya. Kemudian orangtuaku dan orangtua baru Nirma sedang asyik
berbincang – bincang, kurasakan keakraban keluarga kami. Sejenak kupandangi,
ayah baru Nirma yang kurasa asing tak pernah kulihat belakangan ini.
“Hey. Terlihat dari mukanya, dia menjamin hidupmu
dan orang yang sangat baik.” Kataku berbisik kecil kepada Nirma yang sedang
asyik mengunyah makanan.
“Hemm... memang, kuharap begitu.” Katanya dengan
mulut penuh makanan.
“Tuh kaan. Aku bilang apa, ibumu pasti akan selalu
memilih yang terbaik untukmu.”
“Iya, benar. Seperti halnya makanan yang
dihidangkan ini seakan semuanya untukku. Karena makanan ini semuanya kesukaanku,”
kata Nirma yang masih tergila – gila dengan hidangan di atas meja.
“Aaaaah Nirma, kamu ini makanan saja yang
dipikirkan,” Gurauku. Dan seketika itu kami berdua langsung tertawa dengan
penuh gembira ria.
POPULASI ABADI
(Riza Rahmah Angelia)
“Jahat!!” ucap Dita yang menyadarkan
Aniza dari lamunannya yang hampir saja menyejukkan fikirannya dengan semua
bunga – bunga bermekaran di taman sekolah, sebelah kelasnya.
“Ada apa, Din?” tanya Aniza
menghampirinya.
“Dia telah memfitnah kita, Za,”
jawabnya dengan wajah penuh amarah.
Sebelum Aniza sempat bertanya apa
yang sebenarnya sedang ada dalam benak temannya itu, tiba – tiba terdengar
teriakan, “Hey, friend!” sapa Dira, Asyi dan Kiran dari kejauhan, kemudian
datang menghampiri Dita dan Aniza.
“Friend, ternyata benar dugaan Niza.
Mereka jahat banget sama kita, tadi aja pas kita lewat di depan mereka,
semuanya terdiam dan melihat kita sinis gitu,” pernyataan Dira yang sungguh
membuat Aniza bingung.
“Iya, maksud mereka apaan sih
bersikap begitu sama kita?” tambah Asyi dengan penuh kekesalan.
“Sebenarnya mereka sudah memfitnah
kita, teman – teman! Aku tahu itu, aku telah mendengar semuanya dengan
telingaku sendiri!” tegas Dita semakin meyakinkan mereka dan membuat Aniza
semakin bingung.
“Memang ini semua ada apa? Apa yang
sedang kalian bicarakan?” tanya Aniza yang merasa dirinya tidak mengerti apapun
sama sekali.
“Ampuuun Zaa! Daritadi kita bicara
kesal seperti ini kamu tidak tahu apa – apa? Kemana saja, Zaa?” tanya Kiran
yang heran pada Aniza, lalu Aniza pun menggelengken kepalanya dengan wajah
lugunya.
Kemudian Aniza mulai angkat bicara,
“Maaf, aku selalu ketinggalan info, ya?” katanya dengan senyum kecil tanpa
penyesalan.
“Huh. Oke deh. Begini Za, kamu tau
Angel anak kelas 7G kan?” Kiran bertanya kembali kepada Aniza.
“Tentu saja, aku tahu. Nah,
masalahnya?” kata Aniza yang makin bertambah jengkel teman – temannya.
“Udahlah, Kiran! Sini, biar aku saja
yang jelaskan masalahnya langsung ke Aniza. Gak usah banyak cing - cong lagi,”
kesal Dita kepada Aniza dan Kiran. “Za, Angel telah memfitnah kita. Dia bilang
ke guru BP kelas 1 yang mengatakan kalau kita telah membuat sebuah geng.
Sekarang semua teman – teman kita pasti menganggap kitaorang gak bener, za!”
lanjut Dita dengan penuh kekhawatiran.
Tak lama kemudian, Nicky, Friska,
Firda dan Afi datang dengan wajah kusut bak kertas yang baru saja digumpal –
gumpalkan. “Kalian ternyata disini? Daritadi kami mencari – cari. Ayo sekarang
kita ke ruang BP! Kita semua dipanggil, kok!” ajak Friska dengan wajah muram
mendurja, sedangkan yang lainnya merasa kaku dan sedikit pucat mendengar hal
itu.
Maklumlah, sekolahnya memberikan
peraturan untuk tidak berkelompok dalam bermain, maka yang melanggar peraturan
tersebut akan diberi skorsing 1 hari. Sesampainya di ruang BP, mereka yang
termasuk dalam 11 orang yang telah terpanggil itu, terpaku dan tak berkutik di
hadapan guru BP yang terus saja mengoceh tak ada habisnya. Guru itu
mengeluarkan secarik kertas yang berisi tulisan DAKHAFFANDA yang akan terus
dan selalu kompak!
Dengan segala kekuatan, kita mencoba
mempertahankan keyakinan dan mencoba melawan tuduhan itu. Ingin sekali
menceritakan yang sebenarnya, namun melihat guru BP yang selalu saja mengoceh tiada
hentinya, aku merasa sangat jenuh dan hatiku rasanya semakin membara, karena
ocehan yang beliau lemparkan kepada kami seakan beliau, memojokkan kami dan
mudah terpengaruh rumor yang tidak mengasyikkan di telinga Aniza itu. Lalu tiba
– tiba Friska menyambar ocehan guru BP dengan lancangnya, hingga Aniza
mengurungkan niatnya untuk mengutarakan argumennya kepada beliau.
“Ibu! Sadarkah apa yang sedang ibu
lakukan? Ibu telah termakan bualan anak – anak dan jelas saja ibu sendiri telah
memfitnah kita semua!” tutur Friska dengan agak membentakkan suaranya dan kami
semua kaget dengan ucapan Friska yang tidak sopan itu.
“Tidak sopan sekali kamu telah
berkata begitu terhadap gurumu. Friska, dengar baik – baik, ya! Kamu telah
membentak gurumu. Dimana sopan santunmu sebagai murid SMP? Kamu sedang beranjak
dewasa, Friska! Kamu bukan anak – anak lagi!” bentak guru BP itu dengan
bantahannya.
“Friska tahu, dong bu kalau Friska
sudah dewasa. Tetapi, maaf saja bu! Kami..”
“Sudah, nak! Jaga santunmu!” tiba –
tiba Pak Asror, guru BP kelas 3 datang menghampiri kami dan memotong
pembicaraan Friska seketika itu juga. Rupanya Pak Asror telah mendengar
keributan kami di ruang BP.
“Maaf, Bu Siska, mengganggu
sebentar. Bolehkah saya ikut campur dalam masalah ini? Karena saya tadi tidak
sengaja mendengar adu mulut di ruang BP ini, barangkali saja saya bisa
membantu. Malu juga, kan? Kalau keributan ini sampai didengar murid – murid dan
guru – guru lainnya?” lanjut Pak Asror dengan tenang dan sedikit lembut.
“Iya, pak, silahkan ! Saya sudah
bingung harus berbuat apa kepada 11 anak ini,” ujar guru BP yang satu ini
dengan entengnya.
“Sudah lah, bu! Bagaimanapun juga
kita sebagai orangtua harus tenang menghadapinya. Baiklah anak – anak, bisa
kalian jelaskan yang sebenarnya kepada bapak?” kata Pak Asror sembari menunjukkan
kemurahan senyumnya.
“Biar Niza saja yang jelaskan,”
seketika Aniza berkata dengan tidak sadarnya, karena dari awal Aniza sudah
tidak tahan ingin berkata – kata. “Niza dan teman – teman, tiba – tiba saja
dipanggil ke ruang BP dengan Bu Siska yang sudah lama menunggu kami sedari
tadi. Entah kenapa Bu Siska tiba – tiba saja mengomeli kami.” Kata Aniza dengan
merendahkan suaranya, karena dia merasa Bu Siska sedang memelototinya.
“Iya, lalu?” kata Pak Asror.
“Tunggu sebentar, pak Asror!
Sebenarnya saya mengomeli mereka karena kesalahan mereka yang sejak tadi saya
panggil, mereka sama sekali tidak datang. Maka saya pun harus menunggu mereka
lama sekali, selain itu saya telah mendengar bahwa mereka telah membuat sebuah
geng. Yang ternyata mereka telah melanggar salah satu peraturan di sekolah kita
ini, dimana itu adalah suatu hal yang sangat saya benci, kalian tahu itu?” kata
Bu Siska yang membuat Aniza dan teman – temannya bosan mendengar perkataan
beliau.
“Sabar, Bu Siska. Saya harap sabar!
Saya mengerti perasaan anda, tapi saya usulkan agar anda mendengar perkataan
anak – anak dahulu.” kata seorang pria yang sangat baik hati itu, maka Bu Siska
pun tersipu malu dengan perkataannya tadi. “Iya, nak! Silahkan lanjutkan yang
tadi!”
“Begini pak, bu sebenarnya. Sejak
pertama kali kami semua masuk ke SMP ini, kami dipertemukan di sebuah kos –
kosan. Karena kami yang tinggal bersama, di kos – kosan itu, sehinggan membuat
kami semua terlihat sangat akrab seperti saudara. Nah, suatu hari ketika kami
pulang sekolah bersama, kami merasa bosan dan memutuskan untuk bermain sepak
bola di lapangan sekolah.” Cerita Aniza dengan penuh panjang lebar.
“Oke. Lalu?” ujar Bu Siska sembari
menganggukkan kepalanya.
“Tiba – tiba anak – anak cowok kelas
7 yang melihat kami, mengajak untuk bertanding sepak bola dengan kami,
beruntungnya kami semua ada 11 orang, kontan saja kami menyebutkan tim
kesebelasan kami dengan nama Dakhaffanda yang berarti singkatan dari nama kami
semua.” Lanjut Aniza.
“Lalu, maksud dari kertas ini apa?” tanya
Bu Siska sambil menjulurkan kertas tadi.
“Oh, itu. Itu tadinya, karena saya
yang paling mengerti dengan sepak bola, sehingga saya yang menggambarkan
formasi sepak bola untuk tim kami yang hampir saja dikalahkan oleh anak cowok,
Bu! Coba saja ibu lihat bagian belakangnya, ada gambar formasi sepak bola itu,”
jelas Afi sambil menunjukkan kertas bagian belakangnya.
“Oh, kalau begitu. Jelas saja ibu
tidak mengerti di halaman belakang ini ada gambar apaan, ternyata formasi
permainan sepak bola.” Kata Bu Siska dengan sedikit tawanya yang tersipu malu.
“Terus apakah kalian menang
bertanding melawan anak – anak cowok itu? Anak sepak bola itu, kan binaan
bapak. Malu kan kalah tanding sama cewek – cewek kayak kalian?” sindir Pak
Asror.
“Iya, pak! Kami rasa anak – anak
cowok itu hebat – hebat, tapi kami hanya beda satu gol loh, pak! Senangnya,
kami diberi hadiah bola oleh anak – anak cowok itu.” Jelas Firda dengan sok
imutnya.
“Tapi, yang leih menggembirakannya
lagi, kami sengaja memberi nama di bola itu dengan nama tim kesebelasan kami,
dengan harapan kita tidak hanya sebuah kesebelasan, melainkan sebuah
persahabatan yang tidak akan terpisah walau bagaimanapun,” sambar Asyi yang
tiba – tiba angkat bicara.
“Tuh kaan..ternyata kalian benar
saja ingin membuat sebuah geng,” kata Bu Siska yang kembali bersikap sinis.
“Bapak mengerti, kok keinginan
kalian!” kata Pak Asror. “Bukan maksudnya begitu, Bu! Wajar saja, mereka sudah
lama tinggal bersama tanpa orang tua yang menjaganya. Bapak sungguh mengerti
maksud persahabatan kalian, bukanlah sebuah geng. Tetapi, ada baiknya jika
kalian pun ikut serta solidaritas dan berkawan dekat dengan teman – teman kalian
yang lainnya, agar teman – teman kalian yang sebenarnya menyimpan iri kepada
kekompakan kalian, tidak berburuk sangka lagi. Kalian mengerti, kan maksud
bapak? Bagaimana Bu Siska?”
“Iya, Pak saya mengerti. Maksud saya
juga seperti itu, kok!” jawab Bu Siska yang semakin malu dan anak – anak pun
mengangguk seraya tertawa riang. Sehingga mereka tidak lagi membuat kegaduhan
yang memanas di ruang BP itu, melainkan kegaduhan keceriaan.
Secangkir Cinta di Sudut Kafe
(Riza Rahmah Angelia)
Ini hujan yang penghabisan. Begitu
tipis dan sejenak. Tapi, aku tetap membawa payung ibu yang berat, antilipat dan
berwarna – warni bak pelangi, dengan langkah kakiku yang manja dan tergesa –
gesa sambil membawa selembar kertas yang berisi sebuah puisi karyaku sendiri.
Langit yang jarang sekali memuntahkan airnya itu, menjadi begitu gelap di
penghujung hari ini yang terlihat oleh dua bola mataku.
Sebuah kafe di pojokan jalan
sepertinya mengundangku untuk berteduh sejenak. Mungkin secangkir teh hangat
yang pastinya berharga tak masuk akal bisa menghangatkan badanku, pikirku. Aku
segera memesan secangkir teh yang sudah kubayangkan dari tadi dengan tubuh yang
menggigil membuat pelayan kafe di sana, iba melihat diriku yang mungil ini
sendirian menggigil. Secangkir untukku datang, aku pun menyeruputnya dengan
merasakan kenikmatan suasana kafe dibandingkan dengan suasana dingin dan
kulihat dari kursi yang sengaja kupilih dekat kaca yang menghadap ke luar,
sehingga aku bisa melihat suasana yang sepi di luar sana, akibat guyuran hujan
sore – sore.
Secangkir teh dan sepotong pie
nangka di hadapanku pun tandas juga. Langit kembali terang ketika kulangkahkan
kaki keluar kafe. Aku sudah berjalan cukup jauh dengan payung cantik ibuku itu,
dan aku berbalik lagi mengingat selembar kertas puisiku yang tertinggal di
sana. Aku sungguh panik, “Itu dia kertasku!” pekikku.
Dari depan kaca kafe terlihat
sesuatu yang mengesankan. Pengunjung kafe tampak berwarna – warni seperti ikan
tropis dalam aquarium, kulihat seorang
lelaki yang cukup menarik sedang menempati mejaku tadi, lelaki itu seperti
sedang mencorat – coret sesuatu sambil sesekali tangannya memijit – mijit
kalkulator. Aku melangkah masuk dan mendekati seorang pria yang tiba – tiba
saja meletakkan ransel besarnya di dekat kakiku.
“Maaf, saya...” aku bersuara. Ia
mengangkat wajahnya. Oh, aku salah! Ternyata ia bukannya cukup menarik tetapi sangat
menarik.
“Tidak bisa! Duduklah di tempat lain
saja, saya sedang sibuk,” dengan nada galaknya, keketusannya itu tidak mampu
mengurangi daya tariknya tetap sembilan puluh nilainya bagiku.
Aku mencibir dan langsung saja aku
angkat kaki dari hadapan pria itu. Kutinggalkan sebuah kertas yang berisi
puisiku itu, yang ternyata sudah menjadi curahan angka – angka pria tersebut,
toh aku juga merasa puisi buatanku itu tidaklah sebagus dan seberharga Chairil
Anwar. Kulihat kebelakang sekali lagi untuk meyakinkan bahwa wajahnya memang
sangat menarik, namun pria itu tetap tidak peduli dengan sekitarnya dan makanan
serta minuman yang ada di hadapannya. Dia masih sangat terlihat asyik memijit
kalkulatornya itu.
Keesokan harinya, aku kembali ke
kafe itu dan menempati mejaku kemarin yang seperti sudah menjadi tempat yang
strategis bagiku dengan segala inspirasiku, kucoba untuk menulis puisi lagi di
sebuah notesku. Saat sebuah bayangan besar menggelapi notesku, aku mengangkat
wajah, lelaki sembilan puluh kemarin rupanya sedang berdiri di sisiku dengan
pandangan menuntut.
“Tidak bisa. Hari ini meja milikku!”
kataku dengan demonstratif aku langsung meluruskan kedua kakiku ke kursi yang
ada dihadapanku dengan maksud agar dia tidak bisa merebut tempat yang sudah
kutempati itu.
Ternyata pria itu seperti terpaku
melihat notesku, seakan dia menghiraukan perkataanku tadi. Segera kututup
notesku, karena aku belum mengizinkan seseorang membaca puisi karyaku, yang
menurutku itu tidaklah bagus, apalagi orang asing yang tadi sangat terkejut
melihat notes yang berisi puisiku seperti ingin bersiap mengeluarkan kata –
kata hinaan kepada puisiku.
“Kau tidak boleh dengan lancangnya
membaca notesku ini!” nada suaraku seakan aku sedang meredam amarahku.
“Sudahlah, sudah kubaca semua. Gadis
kesepian di sudut kafe, itu kan judulnya?” kata – katanya yang semakin membuat
daya tariknya bertambah nilai satu setengah bagiku.
“Bagaimana kalau aku menemani minum
teh dengan gadis yang sedang kesepian di sudut kafe ini? Karena aku ingin
sekali mengenal dengan seorang gadis yang
membuat kisah tentang cinta di ujung penghujan. Tenanglah! Kita sudah
impas, kok!,” katanya sembari menyingkirkan kakiku dari kursi depanku.
“Baiklah kau boleh duduk di tempat
strategis milikku ini. Oh, ya tadi kau bilang apa? Cinta di ujung penghujan?
Itu seperti puisi yang pernah kubuat,”aku sangat terkejut dengan perkataannya.
“Sudah kuduga, tulisan ini sama
dengan tulisan pada notesmu. Jadi, ini puisi buatanmu?” tanya pria itu dengan
memberikan selembar kertas yang tak sengaja kutinggalkan di atas meja ini
kemarin.
“Tentu saja!” kataku dengan sangat
terkejut bila dia akan mengembalikannya.
“Ternyata kau kemarin menghampiriku
ingin mengambil kertas milikmu ini. Begitukah?” tanya pria itu dengan nada
lugunya.
“Emmm.. iya begitulah. Tapi... aku sudah tidak
butuh itu,” nada pelan, dengan kepasrahanku.
“Loh, memang kenapa? Apa karena aku
sudah merusakkan kertasmu ini menjadi sebuah kertas otretan? Hampir saja aku
buang, kalau aku tidak membaca halaman depannya. Maaf, ya?” tanyanya lagi
dengan sangat penasaran.
“Hahaha.. Bisa jadi itu alasannya.
Tapi tak apalah ambil saja, kalau kau mau membuangnya, buang sajalah! Aku sudah
tidak peduli dengan itu, juga dengan notesku ini, itu sudah tidak berguna
lagi!” nadaku dengan agak kesal dan menyesal kalau pria itu telah mengetahui
puisi buatanku itu.
“Maksudmu apa? Karyamu sungguh
bagus, aku sangat terkesan. Ketika ku lihat beberapa bait puisi saat aku akan
membuang kertasmu yang sudah kulukis – lukis dengan angkaku itu, aku langsung
mengurungkan niatku untuk membuatnya, karena setelah kubaca itu sebuah kisah
yang menyentuh dalam bentuk puisi karya gadis kesepian di sudut kafe,”
ceritanya yang membuatku tersenyum dengan kata – kata akhirnya itu.
“Terima kasih atas pujianmu itu. Aku
menjadi bersemangat lagi dan sekarang aku bukanlah gadis kesepian di sudut kafe
lagi, karena hari ini dan detik ini juga aku sedang berbagi meja dengan pria
yang baru saja memuji karyaku,” nada bicaraku seakan memperlihatkan bahwa jiwa
puitisku akan segera bersemangat kembali, pria itu tertawa dengan perkataanku
tadi.
“Maaf, kertas ini sudah jelek. Biar
aku ganti dengan yang baru dan akan kusalin lagi ini semua. Tenang, aku akan
bertanggung jawab,” katanya dengan perasaan penuh bersalah.
“Tidak apa – apa kok. Buatmu saja,
anggap saja itu sebuah kenang – kenangan dariku,” kataku dengan nada lembut.
“Okelah, terima kasih. Aku yang akan
bayar ini semua, deh. Boleh, kan?” tawar pria itu yang menjadikannya bertambah
nilai tiga koma lima atas kebaikannya.
Entah apa yang kurasakan di sore
yang cerah itu adalah bercampur aduk, seperti ku tak bisa menceritakannya
dengan kata – kata. “Jadi puisi di kertas ini, apakah kamu membuatnya
berdasarkan pengalamanmu?” tanya pria itu tiba – tiba bertanya kepadaku.
“Tidak.
Aku hanya mengada – ada dan tidak pernah mengalaminya. Oh, iya aku baru ingat.
Maaf, ya! Aku harus pergi, karena aku ada urusan dengan temanku,” kataku yang
tadinya sedang menikmati suasana yang hampir romantis itu menjadi terburu –
buru.
“Baiklah. Besok aku tunggu kamu di
tempat ini lagi. Karena aku tidak sabar menunggu kamu menyelesaikan puisimu
yang berjudul Gadis yang Kesepian di Sudut Kafe itu,” katanya dengan penuh
harap dan aku pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Sore esoknya, aku menepati janjiku
untuk datang ke meja di kafe itu yang sepertinya meja itu kini telah menjadi
milik kami berdua pikirku. Kutunggu dia dengan penuh kesabaran sambil membawa
notesku yang berisi puisi pesanannya. Satu jamu, dua jam telah melatih
kesabaranku untuk menunggu pria yang sudah naik level menjadi sembilan koma
lima bagiku. Hari yang sudah hampir senja, menyadarkanku kalau pria itu telah
mengingkari janjinya, aku sungguh bingung apakah aku akan mengurangi nilainya
di pandanganku menjadi pria delapan koma lima? Tapi, aku mencoba untuk berpikir
positif tentangnya.
Ku datang lagi keesokan sorenya,
dengan harapan dia akan mengganti hari kemarin dengan hari ini. Kulihat di luar
sedang hujan rintik – rintik, membuat pikiran positifku tentangnya menjadi
berubah perlahan – lahan. Padahal ku ingin berbincang – bincang tentang puisi
buatanku ini dan sekarang aku berpikir untuk tidak menunggunya lagi. Aku harap
aku akan bertemu dengan pria sembilan koma lima itu di lain waktu yang tidak
kusangka, kata – katanya yang terus terngiang
di otakku membuatku semakin semangat untuk membuat puisi dan menerbitkannya di
media – media cetak dan berharap juga dia akan membaca puisiku dan akan kembali
menemuiku, agar aku bisa mengenal dan mengetahui nama asli pria sembilan koma
lima yang sungguh sangat misterius itu.
Api yang
Takkan Pernah Padam
(karya: Amalia Rizki R.)
Hamparan
rumput hijau terbentang luas di hadapanku. Aku menghela nafas, menhirup
kesejukan di ruang hijau itu. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk memunculkan
sesosok yang sangat aku rindukan, ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu,
maaf Haidar baru sekarang dapat menjenguk kalian,” ujarku lirih di
tengah-tengah desir angin yang menyapu tempatku kini berpijak.
*****
18 tahun lalu…
“Anak-anak,
hari ini kita belajar tentang cita-cita, ya. Nah, Dennis, apa cita-citamu,
sayang?” tanya wanita itu, Bu Diana dengan lembut pada seorang anak lelaki yang
duduk di sebelahku.
“Dennis mau
jadi pilot, Bu Guru! Biar nanti Dennis bisa mengantar orang-orang ke
Antartika,” jawab Dennis riang. Bu Diana hanya tersenyum seraya menepuk kepala
Dennis dengan lembut.
“Bagus,
Dennis. Nah, kalau haidar ingin jadi apa saat sudah besar nanti?” tanyanya
padaku seraya terseyum.
“Haidar
ingin jadi pemadam kebakaran, Bu. Soalnya ayah Haidar kan pemadam kebakaran. Nanti
Haidar yang memadamkan apinya. Terus
orang-orang di dalamnya Haidar selamatkan, Bu!” kataku bangga. Bu Diana
tersenyum padaku
*****.
Ya, sedari
aku masih di taman kanak-kanak, aku memang ingin menjadi seperti ayahku yang
seorang pemadam kebakaran. Setiap hari, selalu saja dengan wajah bangga aku
menceritakan ayahku yang berhasil memadamkan api saat ada kebakaran besar dan
menyelamatkan orang-orang di dalamnya. Bahkan, aku berkata bahwa ayahku adalah
jelmaan dari Superman.
Saat usiaku
15 tahun, mejelang ujian kelulusan,
sebuah bencana datang menimpa keluargaku. Perusahaan tempat ibuku
bekerja mengalami kebakaran hebat. Kebakaran yang terjadi pada saat jam sibuk
itu mengakibatkan kerugian yang tak terkira.
Sayangnya
tim pemadam kebakaran datang terlambat saat itu. Mereka baru datang saat api
berangsur-angsur padam. Ibuku dan puluhan karyawan yang menjadi korban langsung
dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beberapa di antara mereka yang menjadi
korban mengalami luka bakar yang serius, begitu pula ibuku. Luka bakarnya dapat
dibilang parah karena hampir seluruh tubuhnya melepuh akiba terkena jilatan
api. Ya, ibuku sempat terbungkus oleh api saat ingin menyelamatkan diri dan
terjebak dalam kobaran api yang sangat besar.
Sejak
itulah wajah ibu berubah. Parasnya yang dulu jelita bak putri raja kini berubah
menjadi itik buruk rupa. Dan sejak saat itu pula aku membenci ayah. Aku
berpikir bahwa ayahlah yang menyebabkan wajah ibu seperti itik buruk rupa. tak
lama setelah insiden kebakaran itu, ayah menceraikan ibu. Lalu ia menikah lagi
dengan seorang wanita yang cantik dan bergelimang harta.
Saat
menginjak bangku SMA, ibu datang ke sekolahku untuk mengambil hasil belajarku
selama satu semster. Masih kuingat dengan jelas, beberapa temanku bertanya
heran padaku seraya menunjuk ke arah ibuku yang sedang berbicara dengan wali
kelasku.
“Dar, itu
ibumu?” tanya salah satu dari mereka. Aku mengangguk.
“Yang
benar? Kukira dia pembantumu. Soalnya mukanya buruk sekali, seperti pembantu,”
kata mereka dangen santainya.
Sakit.
Aku hanya
tersenyum pahit mendengar ucapan mereka tentang ibuku. Dan malam harinya aku
menceritakan kejadian tadi di sekolah pad aibu. Ibuku hanya tersenyum.
“Haidar,
kamu malu memiliki ibu yang buruk rupa seperti ibu, ya?” tanya ibuku seraya
tersenyum. Namun aku dapat merasakan sakit hatinya dalam nada suaranya.
Aku
menggeleng kuat. “Tidak, Bu. Haidar tidak malu, kok!” kataku.
“Lalu?”
tanya ibuku.
“Hmm…. Ibu
mengapa tidak operasi saja? Bedah plastik. Kan sekarang bedah plastik juga tak
terlau susah, Bu,” ujarku. Aku menatap ibu takut-takut, takut ia tersinggung
dengan kata-kataku. Namun ibuku tak merasa seperti itu. Beliau justru tersenyum
dan megelus lembut rambutku.
“Ibu tidak
ingin operasi, Haidar. Biar saja wajah ibu seperti ini.Biaya untuk operasi kan
bisa dipakai untuk biaya kuliahmu nanti. Lagipula ibu sudah pernah merasakan
menjadi wanita cantik. Saat ini ibu ingin menjadi itik buruk rupa, tapi di
sini…” ibu menempelkan tangannya di dadaku, “…di sini tetap harus cantik,” ujar
ibuku seraya tersenyum manis. Aku pun turut tersenyum. Ya, Ibu. Kau akan tetap cantik sampai kapanpun, batinku.
*****
Siang itu, seminggu setelah UN SMA…
“Haidar,
kemari, Nak. Ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganmu,” ujar ibuku. Aku
menoleh dan beranjak meninggakan sementara aktivitasku mengerjakan web-design project yang kini menjadi
mata pencaharian di waktu luangku.
“Ada apa,
Bu? Sepertinya penting sekali,” ujarku seraya megikuti ibu ke ruang tamu.
“Haidar,
maaf ibu lancang tidak meminta persetujuanmu melakukan ini. Tetapi, ini semua
untuk kebaikan kamu,” ujar ibuku. Aku memandang Ibu heran.
“ibu ingin
menikah lagi? Haidar tidak melarang ibu, kok. Itu hak ibu,” uajrku. Ibu hanya
menggeleng.
“Bukan
tentang itu, tentang karirmu nanti,” jawab ibu. Aku terdiam. Karirku? Batinku.
“ibu
mendaftarkanmu ke pemadam kebakaran kota, Haidar,” ujar ibu pelan.
“Eh?”
“Ya,
Haidar. Ibu telah mendaftarkanmu ke dinas pemadam kebakaran. Ibu tahu kamu
memang belum kuliah. Tapi ibu sudah mendaftarkan namamu untuk masuk ke sana
saat kau lulus kuliah nanti. Mengingat kau adalah putra dari Pak Asyhab,
pemadam terbaik yang telah mempertaruhkan nyawanya dalam kebakaan hebat sebulan
lalu. Bagaimana?” jelas ibuku.
Aku
terdiam. Kembali ingatanku memunculkan tayangan televisi yang memberitakan bahwa
seoarang anggota pemadamkebakaran tewas terbakar saat mencoba menerobos kobaran
api yang sangat dahsyat di sebuah hotel ternama. Dan tak lama setelah berita
itu turun, seorang rekan ayah datang ke rumahku dan mengatakan bahwa ayah telah
meninggal dalam kobaran api di hotel itu.
“Maaf, Bu.
Bukannya Haidar tidak menghargai usaha ibu, tetapi Haidar tidak ingin menjadi
anggota pemadm kebakaran, Bu. Haidar telah memikirkan masa depan Haidar, Bu,”
ujarku.
“Begitukah?
Sayang sekali. Padahal almarhum ayahmu ingin sekali kau menjadi seperti dia,
Nak. Beliau selalu terseyum saat membayangkan kau memakai pakaian pemadam
kebakaran. Dan beliau berharap semua itu menjadi kenyataan,” ujar ibu lirih.
Pandangannya menerawang, jauh sebelum insiden kebakaran di perusahaan ibu.
Aku
menghela nafas. “Bu, aku tidak ingin menjadi seperti ayah. Aku ingin menjadi
diriku, bukan bayang-bayanag ayah. Aku memilih jalanku sendiri, Bu. Aku tidak
ingin mencelakakan orang lain, Bu,” jawabku.
“mencelakakan?
Apa maksudmu?” tanya ibu heran. AKu terkejut ibu tak mengerti maksudku.
Amarahku
meluap, tak dapat kubendung agi. Amarah yang selama 3 tahun ini tersimpan dalam
hati, kini meledak.
“Kebakaran 3 tahun lalu. Karena ayahlah wajah
ibu seperti itu. karena ayah datang terlambat, wajah ibu seperti itu, Bu!”
ujarku menahan emosi.
“ Haidar,
jaga ucapanmu!” suara ibu berubah menjadi tegas.
“Dan ayah
memang pantas mendapatkan itu. terbakar dalam kobaran api.”
PLAAAAAAAKKK!!!!!
Ibu
menamparku.
Pipi
kananku memerah. Ibu menatapku tajam. Matanya berkaca-kaca. Rasa marah, keasl,
dan sedih bercampur di matanya.
“Haidar! Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk
membenci ayahmu! Wajah ibu seperti ini, semuanya Tuhanlah yang mengatur! Semua
ini takdir Tuhan, Haidar. Semua ini bukan mutlak kesalahan ayahmu!” Ibu
berusaha menahan tangisnya.
“Tapi ayah
MENINGGALKAN kita, Bu! Ayah tak pernah lagi datang kemari untuk melihat keadaan
kita! Apakah itu juga bukan salah namanya?!” tanyaku emosi.
“HAIDAR!
JAGA UCAPANMU! WALAUPUN AYAHMU MELAKUKAN KESALAHAN, DIA TETAP AYAHMU, HAIDAR!!”
bentaknya. Baru kali ini Ibu membentakku. Dan ia pun beranjak dari ruang tamu.
*****
Siang itu,
aku kembali ke rumah dengan langkah yang sengaja kupercepat. Aku tak sabar untuk sampai di rumah dan
mengabarkan hasil kelulusanku pada ibuku. Ibu
pasti bahagia saat mengetahui bahwa hasil UN-ku tertinggi di sekolah, batinku.
Namun
tampaknya kebahagiaanku hanya sampai di sana saja. Dari kejauhan, kulihat
orang-orang berkerumun di dekat rumahku. Dan samar-samar kulihat kotak baja
merah di antara kerumunan itu. Nafasku tertahan. Aku merasakan sesuatau yang
buruk terjadi di dekat rumahku. Dengan rasa penasaran yang menggebu-menggebu,
aku berlari menuju kerumunan tersebut.
Ya Tuhan. Apa yang terjadi?! Aku menatap bangunan di hadapanku dalam diam. Kaget
dan tak percaya.
Rumahku dan
beberapa rumah di sebelahnya tenggelam dalam kobaran api.
“Haidar!
Syukurlah kamu sudah pulang!” seru seseorang yang menyeruak dari tengah
kerumunan, Mbak Anne, tetanggaku. Tampaknya dia melihatku dari kejauhan.
“Ada apa,
mbak? Mengapa—“ ucapanku terputus.
“Haidar,
Ibu kamu…” mbak Anne menatapku sedih. Tiba-tiba ia menangis di depanku.
“Mbak,
Mbak… Ibu saya kenapa, Mbak? Ada apa dengan ibu saya?” tanyaku. Jantungku
berdetak sangat cepat.
“Ibu kamu
meninggal, Haidar… Beliau keracunan gas karbon dari kebakaran itu…” ujarnya di
sela-sela tangisnya.
Aku
terpaku.
Dunia
seakan runtuh saat itu juga.
*****
Kini, 5
tahun berlalu sejak kedua orang tuaku meninggal akibat kebakaran. Aku belajar
menerima semua kenyataan yang selalu kupungkiri selama ini.
Hamparan
rumput hijau terbentang luas di hadapanku. Aku menghela nafas, menghirup
kesejukan di ruang hijau itu. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk memunculkan
sosok yang sangat aku rindukan, ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu,
maaf Haidar baru sekarang dapat
menjenguk kalian,” ujarku lirih di tengah-tengah desir angin yang
menyapu tempatku kini berpijak.
“Maafkan
Haidar, Ayah, Ibu. Sekarang Haidar sedang meniti karir. Ya, seperti harapan
ayah dan ibu. Haidar akan terus berusaha memadamkan api yang berkobar.
Karena Haidar tahu, tidak ingin aada orang lain yang merasakan kesedihan yang
sama dengan Haidar, kehilangan orang yang kita cintai dalam kobaran api. Tetapi
Haidar juga tahu, ada api yang tak bisa Haidar padamkan, Ayah, Ibu. Yaitu api
semangat yang akan terus berkobar dalam diri kita sendiri dan api cinta di
antara kita yang menyatukan kita yang tidak akan padam termakan waktu,” ujarku
seraya tersenyum di depan makam ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu,
Haidar pergi dulu. Haidar akan tetap
menjenguk ayah dan ibu. Api kita tidak akan pernah padam, Ayah, Ibu,” ujarku
seraya beranjak dari tempatku.
Samar-samar,
di kejauhan, aku melihat mereka. Sosok ayah dan ibuku, berdiri berdampingan dan
tersenyum padaku. Dan mereka pun
menghilang bagaikan debu tersapu angin. Aku tersenyum memandang tempat mereka
berdiri tadi. Aku merasakan kesejukan dalam hatiku, hingga saat ini. Hingga aku
menghembuskan nafas terakhirku.
*** TAMAT ***
(Riza Rahmah
Angelia)
Sepulang sekolah,
Dira yang Nampak bingung mempersiapkan kata - kata untuk nanti malam, yang rencananya
malam minggu ini ia akan menyatakan perasaanya terhadap Resha, teman
sekelasnya. Aldo, teman dekat Dira membantunya menyiapkan sejuta kata - kata
yang indah. Malamnya dengan pakaian serba hitam dan rapih, wangi parfum yang
sangat menyengat wanginya, serta setangkai mawar merah yang Dira bawa. Malam
itu Dira berdandan sangatlah sempurna, lalu bergegaslah Dira berangkat dengan
motor ninja putihnya. Gue ga mau tau, kali ini gue harus berhasil nyatain
perasaan ini, ga perduli apa kata dia, yang penting gue bakal nyatain ini
perasaan gumamnya dalam hati.
Namun naas, sebuah
lubang besar yang berada tidak jauh di depan motor Dira yang sedang melaju kencang,
tidak mampu ia lewati. Telah terbayang olehnya atas kesuksesan yang akan ia
lakukan di rumah Resha, akhirnya Dira terjatuh dari motor dan bajunya
tersangkut di salah satu bagian motor itu yang membuat dirinya terseret motor
besarnya itu. Dira koma dan tak sadarkan diri, padahal minggu depan Dira harus
mengikuti Ujian Nasional di sekolahnya.
*****
“Do, temani aku
yuk jenguk Dira!” kata Resha yang menelepon Aldo tiba - tiba.
Aldo terdiam
sejenak. “Sa, lu tau ga? Dira kaya gini gara - gara lu,” katanya dengan emosi
yang tak terkendali.
“Kok kamu
menuduhku seperti itu, Do? Saat kejadian itu kan aku sama sekali tidak ada
disana?”
“Ya udah. Pokoknya
gue tunggu lu di gerbang rumah sakit, ntar gue tunjukkin kamar Dira,” kata Aldo
mengakhiri pembicaraannya di telepon.
Aldo yang telah
menunggu datangnya Resha yang agak lama di depan rumah sakit sudah sangat
kesal, karena dirinya selalu berfikir bahwa teman dekatnya menderita begini itu
karena Resha dan semuanya adalah salah Resha. Lalu Resha pun datang dengan
langkah agak tergopoh – gopoh.
“Cepat sedikit
dong! Naik odong – odong apa ya? Gue gak suka nunggu lama, tau?” bentak Aldo
kepada Resha yang sudah tidak tahan dengan kata – kata Aldo sedari tadi.
“Iya, Do. Maksud
lo apa sih? Udah nuduh gue, bentak –
bentak gue lagi. Apa – apaan sih? Emang salah gue apa, Do?” tanya Resha sembari
berjalan dengan Aldo di sampingnya.
“Waktu itu. Lu
emang ga ada disana, tapi lu tetap gue anggap bersalah. Lu ga tau kan apa yang
terjadi sama Dira sekarang? Lu juga gak tau kan semalem itu Dira mau kemana?
Kerumah lu tau!”
“Tolong, Do! Ceritain
yang jelas! Gue ga ngerti.”
“Jadi begini, si
Dira pengen nyatain cintanya ke lu, Sha. Tapi ternyata malang, dia malah kecelakaan
dan akhirnya Dira koma, dan lu tau? Ini sudah hampir seminggu, Sha,” sentaknya
saat itu yang akhirnya mereka sudah sampai di depan kamar Dira.
“Juga lu ga tau,
kan Sha? Sebenarnya Dira.........” lanjut Aldo. Suara yang hampir terisaknya
itu terhenti ketika ibu Dira keluar dari kamar inapnya Dira.
Mereka mendapati
ibunya Dira yang baru saja duduk didepan kamar inapnya dengan keadaan wajah
yang mungkin sudah tidak ada harapan untuknya ceria kembali, mereka pun segera
menghampirinya.
“Tante, tante
kenapa menangis? Dira kenapa tan? Dira baik - baik saja kan?” tanya Resha
dengan nada sopannya.
“Resha!” tiba –
tiba ibu Dira memeluknya dengan penuh isak tangisnya.
“Jangan pernah
lupakan Dira, nak! Jangan pernah buat hatinya terpuruk ya, nak! Tante mohon,
dengan sangat, nak!” lanjutnya.
“Iya, tan. Resha
janji gak akan lupakan Dira, tan. Tetapi Dira kenapa, tan?” tanya Resha penuh
penasaran.
“Dokter bilang,
jantung Dira sudah diambang tidak normal, jantungnya semakin melemah. Kalau
Dira sadar dari komanya pun, dia akan..... Dira akaaan.....lumpuh, Sha,” jelas
Aldo yang tiba – tiba saja menitikkan air matanya, kemudian ibu Dira menangis
histeris.
Resha benar –
benar tidak menyangka dengan semua kejadian ini. Resha benar – benar menyesal.
Setelah kematian Dira, semua berduka, terutama Resha. Dari kelas 1 SMA Resha sangat
menyukai Dira, karena ke khasan sikapnya membuat Resha semakin susah melupakan
Dira. Resha ingat saat mereka sedang nonton bioskop bareng.
Dira : “sha liat deh, idungnya pesek banget”
Resha : “iiih kamu jahat, jangan nyinggung masalah pesek lah”
Dira menatap kearah Resha dengan penuh kehangatan
Resha : “ih jelek jangan liatin aku seperti itu deh” sambil
mengalihkan mukanya, berharap supaya Dira tidak menatapnya lagi.
Dira malah menatap lebih dalam lagi, muka Dira hanya berjarak 1 jengkal dari
muka Resha, Resha menjadi salah tingkah dan mukanya nampak merah dibuatnya.
Resha : “Dir”
Keadaan hening, beberapa menit kemudian