Rabu, 27 Juni 2012

Kumpulan Cerpen


Kumpulan Cerpen
..
                Disusun oleh :
1.        Riza Rahmah Angelia
2.      Fahroziah Assyifa
3.      Amalia Rizki Ramadhani
                                               


DAFTAR ISI

1.    Daftar isi            .................................................................................... 2
2.    Biodata Penulis    .................................................................................... 3
3.    Melatiku yang Hilang  .......................................................................... 4
4.    Maju Mundur seperti Undur – Undur  .............................................. 10
5.    Senyum dan Air Mata   ....................................................................... 15
6.    Syukuri Apa yang Ada   ...................................................................... 22
7.    Populasi Abadi   ................................................................................... 26
8.    Secangkir Cinta di Sudut Kafe   ......................................................... 31
9.    Api yang Takkan Pernah Padam   ...................................................... 35
10. Kotak Pandora    .................................................................................. 44
11. Kehidupan di Atas Atap  .................................................................... 49
                       





Biodata Peserta lomba “KumCerku di Leutika Prio”

1.  Nama Lengkap        :  Riza Rahmah Angelia
Tempat, tanggal lahir   :  Cirebon, 18 September 1995
Alamat               :  JL. Pekalipan Utara VII no. 12,                           Rt/Rw : 03/01, Kota Cirebon
Email                     :  rizarahmahangelia@yahoo.co.id
Facebook            :  rahmah_alz_reen@hotmail.com
No. Tlp/ hp         :  (0231) 232908 / 0818239030
No. Rekening        :



2.  Nama Lengkap        :  Fahroziah Assyifa
Tempat, tanggal lahir   :  Majalengka, 13 Juni 1995
Alamat               :  JL. Ahmad Yani no. 37, Ds. Ciborelang,                    Kec. Jatiwangi, Majalengka
Email                    :  ojji_assyifa@yahoo.co.id
Facebook            :  chipph_me@yahoo.com
No. Tlp/ hp         :  087724303010
No. Rekening        :



3.  Nama Lengkap       : Amalia Rizki Ramadhani
Tempat, tanggal lahir   : Purworejo, 20 Februari 1995
Alamat               : Jl. Jepara C 19 No. 21 Taman Nuansa                             Majasem RT/RW 02/15, Kota Cirebon
Email                     : rizki.amaliaa@ymail.com
Facebook            : amaliaar@yahoo.com
No. Tlp/ hp         : 085797005234
No. Rekening        : 1000874643 (BRI SYARIAH)






           
karya : Riza Rahmah Angelia
diadaptasi dari kisah buatan Intan Puspitasari



Syukuri Apa yang Ada
(Riza Rahmah Angelia)

Dulu, aku hidup bahagia. Tetapi, kini semuanya telah berubah. Hidupku tak seindah dulu. Kejadian itu telah merenggut kebahagiaanku tak cukup sesaat. Dan hal ini tak mudah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD untuk menerima kenyataan pahit yang kuhadapi saat ini.
Tempo hari, di saat aku menangis pilu. Saat diri ini tak percaya akan kenyataan yang terjadi. Ayahku pergi begitu cepat. Pergi ke tempat yang tidak mungkin aku singgahi sekarang ini juga. Kata – kata yang pedih di dengar namun fakta itu adalah meninggal. Ya, ayahku meninggal 2 tahun silam. Berarti beliau telah meninggalkanku hingga kelas 1 SMP. Saat beliau tak mampu lagi untuk menahan diri dari sakit yang dideritanya karena terkena peluru tembakan di bagian dada. Naas memang, ayahku telah terbunuh oleh pemerintah Belanda, beliau yang rela mengorbankan jiwanya demi aku, adikku dan ibuku telah terbunuh di hadapanku.
Ibuku sempat tak sadarkan diri karenanya dan aku mengalami trauma yang berkepanjangan hingga saat ini dengan suara tembakan, tapi mungkin saat itu sudah takdirnya beliau untuk pergi meninggalkan orang – orang tercintanya. Akhir – akhir ini aku mencoba untuk memberi pengertian kepada ibuku, bahkan sanak saudara ibu yang lainnya. Sudah berkali – kali aku mencobanya, tetap saja mereka tidak mengizinkanku dan berdalih bahwa sebenarnya nenekku dari ayah telah melupakan dan tidak peduli terhadap kami lagi, semenjak kematian ayahku.
“Tidak! Itu semua bohong! Kalian salah, nenek pasti masih ingat kami dan masih sayang kami,” berontakku dalam hati. Aku tahu ini semua berat, bila aku terus memberontak seperti itu kepada ibuku yang akan membuat ibu semakin terpukul, dan merasa dirinyalah yang sangat bersalah. Aku mengerti itu, juga aku mengerti makam ayah yang terlalu jauh untuk dikunjungi, tidak memungkinkanku untuk pergi ke sana sendiri, bila aku harus memaksa keadaan. Tetapi, aku rindu sekali dengan ayah.
Malam ini adalah malam ulang tahun ayahku. Karena itu, aku  pun teringat rekaman ulang semua kejadian pilu itu. Aku tak menyangka bahwa saat aku kelas 3 SD, itulah pertama dan terkahir kalinya kami sekeluarga merayakan ulang tahun bersama. Masih tergambar jelas senyum bahagia di wajahnya, menambah luka di hatiku yang mungkin telah sempat mengering, tetapi kini kembali tergores.
Air mataku sekarang telah surut melihat kerja keras ibuku seorang. “Kita harus tegar. Harus selalu bisa menatap masa depan yang masih sangat panjang,” itulah yang selalu ibu ucapkan ketika upayaku sudah mulai surut.
Hari demi hari, kami jalani dengan tabah. Begitu sulitnya hidup tanpa seorang pemimpin yang handal, seorang kepala keluarga yang layaknya seorang pria yang bertanggung jawab seperti ayahku yang telah tiada. Akhirnya, ibuku memberi usul kepadaku bahwa sebaiknya kami mencari pengganti seorang ayah. Pada awalnya, aku tidak setuju, sampai aku lebih memilih untuk mati dari pada menyetujui dan melihat pengganti ayahku. Karena di mataku, hanya ayahkulah satu – satunya seorang ayah yang sempurna. Namun, pada akhirnya aku setuju dengan keputusan itu, karena tak  tahan akan tanggunya yang harus dipikul ibuku seorang diri.
“Tapi bukan maksudku agar semua orang kasihan padaku, hanya saja supaya mereka semua mengerti dan harus bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan, terlebih bagi mereka yang keluarganya masih lengkap. Yah, sudahlah semuanya telah berlalu, mungkin ini memang sudah menjadi jalan takdirku,” aku menghela nafas berat dengan teman baikku yang masih saja setia mendengar semua kuakkan memori pahitku yang sudah lama terpendam ini.
Namun sepertinya, Dita sangat butuh untuk menceritakan pengalamannya juga. Dan aku pun berjanji, sebagai temannya akan selalu siap mendengar seluruh keluhannya dan menjadi penaungnya saat ia tidak tahu harus kemana ia menaung kapanpun dan dimanapun.
“Ya sudahlah. Nirma. Allah telah menetapkan jalan hidup yang berbeda – beda untuk setiap manusia di muka bumi ini,” kata Dita yang membuatku lega dan tersenyum.
“Dita, makasih ya! Hari ini kamu sudah mau jadi tempat sampah yang baik buatku, yang bisa menjadi tempat untuk membuang semua rasa – rasa kekesalanku itu,” aku sangat bahagia saat itu. “Aku berdoa semoga nanti malam, aku bermimpi bertemu dengan ayah dan dapat mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah secara langsung.”
“Iyaa. Semoga saja doamu itu terkabul. Aku pun turut senang kalau semua keinginanmu itu terkabul. Perbanyaklah berdoa kepada Tuhan, ya!”
Aku tersenyum penuh harap, walaupun senyumku tidak sepenuh harapan Nirma. Tak bisa kubayangkan, jika akulah yang mendapatkan takdir yang sudah digariskan Tuhan seperti itu.
Keesokan paginya, kulihat wajah Nirma yang murung yang membuatku kembali khawatir. Namun kutetap akan mencairkan suasana, “Tadi malam, bagaimana?” tanyaku singkat. Terdiam, lama kumenunggu jawaban.
“Tak apalah. Yang penting aku telah mengirimkan doa untuk ayah, sekalipun tadi malam aku tidak bermimpi tentangnya,” suara Nirma terdengar lirih namun tegar.
“Sudahlah, yang telah berlalu, biarlah berlalu!” aku mencoba untuk menghiburnya, takut kalau sampai Nirma bersedih hati, karena keinginannya tidak tercapai.
“Tenang saja, aku sudah menyimpan kenangan pahitku, supaya tidak menyurutkan perjuanganku hari ini, esok dan mungkin untuk seterusnya,” akhirnya semangat Nirma muncul kembali dan segera bangkit dari keterpurukan yang menekan batinnya selama ini.
“Yang penting sekarang..... Syukuri dulu saja apa yang ada... karena di setiap kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa.”
Sebulan telah berlalu, Nirma sudah melupakan keterpurukan yang melandanya di masa lalu. Tiba – tiba di sekolah, ia berlarian menghampiriku seperti akan membawakan berita baik kepadaku. “Alyaaaa!!! Tebak deh, sesuatu apa yang mau aku ceritain ke kamu?” teka – tekinya dengan penuh perasaan ceria.
“Apaan – apaan, Nirma? Pasti berita baik yaa?” kataku yang sangat penasaran dengan itu semua.
“Emmmm.... minggu depaann. Ibukuuuu.... akan mengadakan persepsi pernikahan!” katanya dengan penuh bahagia. Aku senang melihat Nirma seceria itu, tidak seperti dulu yang terus bermuram durja. Namun aku tidak mengetahui, apakah Nirma benar – benar senang, ataukah hanya mencoba tegar atas kepedihannya. Lalu, kuberanikan diri untuk bertanya dengan penuh kesopanan tanpa di luar batas.
“Nirmaa.. Kamu serius dengan keputusan itu semua, kan? Kamu pasti bangga mempunyai papah, kan?” kataku meyakinkannya.
“Ng.... sebenarnyaa..” gumamnya tiba – tiba. Tapi aku tak ingin apa yang tidak kuharapkan itu terjadi sekarang, yaitu berubah pikiran.
“Ayolaahh, teman! Tidak selamanya keluarga tiri itu menyusahkan. Pasti kamu sudah sepakat dan tidak ingin mengecewakan keputusanmu sendiri dengan ibumu, kan?” kataku.
“Iyaa. Pasti, baiklah, kawan! Minggu depan hadirlah di acara pernikahan ibuku! Datanglah bersama orangtuamu kau akan menjadi tamu kehormatan keluargaku. Karena bagiku kau adalah sahabatku, dan ibuku tahu itu. Oh, iya besok akan kuberi kalian undangan,” kata Nirma yang masih ceria.
Persepsi pernikahan telah dilaksanakan. Aku melihat Nirma dan ibunya berjalan ke arahku, mamah, dan papahku yang sedang tersipu malu karena keterlambatan kami untuk datang ke pesta pernikahan ibunya Nirma. “Mari, mamahnya Alya! Duduklah di meja makan yang telah kami sediakan!” kata ibunya Nirma dengan nada suara yang lembut.
“Oh, iya Bu, Mari! Terimakasih,” kata mamahku dengan santun dan segera menuju ke meja makan yang sudah tertata rapih dengan lilin dan berbagai makanan serta minuman yang sengaja telah dipersiapkan untuk tamu kehormatan.
Nirma pun duduk di sampingku, begitu juga ibu dan ayah barunya. Kemudian orangtuaku dan orangtua baru Nirma sedang asyik berbincang – bincang, kurasakan keakraban keluarga kami. Sejenak kupandangi, ayah baru Nirma yang kurasa asing tak pernah kulihat belakangan ini.
“Hey. Terlihat dari mukanya, dia menjamin hidupmu dan orang yang sangat baik.” Kataku berbisik kecil kepada Nirma yang sedang asyik mengunyah makanan.
“Hemm... memang, kuharap begitu.” Katanya dengan mulut penuh makanan.
“Tuh kaan. Aku bilang apa, ibumu pasti akan selalu memilih yang terbaik untukmu.”
“Iya, benar. Seperti halnya makanan yang dihidangkan ini seakan semuanya untukku. Karena makanan ini semuanya kesukaanku,” kata Nirma yang masih tergila – gila dengan hidangan di atas meja.
“Aaaaah Nirma, kamu ini makanan saja yang dipikirkan,” Gurauku. Dan seketika itu kami berdua langsung tertawa dengan penuh gembira ria.
POPULASI ABADI
(Riza Rahmah Angelia)

            “Jahat!!” ucap Dita yang menyadarkan Aniza dari lamunannya yang hampir saja menyejukkan fikirannya dengan semua bunga – bunga bermekaran di taman sekolah, sebelah kelasnya.
            “Ada apa, Din?” tanya Aniza menghampirinya.
            “Dia telah memfitnah kita, Za,” jawabnya dengan wajah penuh amarah.
            Sebelum Aniza sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang ada dalam benak temannya itu, tiba – tiba terdengar teriakan, “Hey, friend!” sapa Dira, Asyi dan Kiran dari kejauhan, kemudian datang menghampiri Dita dan Aniza.
            “Friend, ternyata benar dugaan Niza. Mereka jahat banget sama kita, tadi aja pas kita lewat di depan mereka, semuanya terdiam dan melihat kita sinis gitu,” pernyataan Dira yang sungguh membuat Aniza bingung.
            “Iya, maksud mereka apaan sih bersikap begitu sama kita?” tambah Asyi dengan penuh kekesalan.
            “Sebenarnya mereka sudah memfitnah kita, teman – teman! Aku tahu itu, aku telah mendengar semuanya dengan telingaku sendiri!” tegas Dita semakin meyakinkan mereka dan membuat Aniza semakin bingung.
            “Memang ini semua ada apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Aniza yang merasa dirinya tidak mengerti apapun sama sekali.
            “Ampuuun Zaa! Daritadi kita bicara kesal seperti ini kamu tidak tahu apa – apa? Kemana saja, Zaa?” tanya Kiran yang heran pada Aniza, lalu Aniza pun menggelengken kepalanya dengan wajah lugunya.
            Kemudian Aniza mulai angkat bicara, “Maaf, aku selalu ketinggalan info, ya?” katanya dengan senyum kecil tanpa penyesalan.
            “Huh. Oke deh. Begini Za, kamu tau Angel anak kelas 7G kan?” Kiran bertanya kembali kepada Aniza.
            “Tentu saja, aku tahu. Nah, masalahnya?” kata Aniza yang makin bertambah jengkel teman – temannya.
            “Udahlah, Kiran! Sini, biar aku saja yang jelaskan masalahnya langsung ke Aniza. Gak usah banyak cing - cong lagi,” kesal Dita kepada Aniza dan Kiran. “Za, Angel telah memfitnah kita. Dia bilang ke guru BP kelas 1 yang mengatakan kalau kita telah membuat sebuah geng. Sekarang semua teman – teman kita pasti menganggap kitaorang gak bener, za!” lanjut Dita dengan penuh kekhawatiran.
            Tak lama kemudian, Nicky, Friska, Firda dan Afi datang dengan wajah kusut bak kertas yang baru saja digumpal – gumpalkan. “Kalian ternyata disini? Daritadi kami mencari – cari. Ayo sekarang kita ke ruang BP! Kita semua dipanggil, kok!” ajak Friska dengan wajah muram mendurja, sedangkan yang lainnya merasa kaku dan sedikit pucat mendengar hal itu.
            Maklumlah, sekolahnya memberikan peraturan untuk tidak berkelompok dalam bermain, maka yang melanggar peraturan tersebut akan diberi skorsing 1 hari. Sesampainya di ruang BP, mereka yang termasuk dalam 11 orang yang telah terpanggil itu, terpaku dan tak berkutik di hadapan guru BP yang terus saja mengoceh tak ada habisnya. Guru itu mengeluarkan secarik kertas yang berisi tulisan DAKHAFFANDA yang akan terus dan selalu kompak!
            Dengan segala kekuatan, kita mencoba mempertahankan keyakinan dan mencoba melawan tuduhan itu. Ingin sekali menceritakan yang sebenarnya, namun melihat guru BP yang selalu saja mengoceh tiada hentinya, aku merasa sangat jenuh dan hatiku rasanya semakin membara, karena ocehan yang beliau lemparkan kepada kami seakan beliau, memojokkan kami dan mudah terpengaruh rumor yang tidak mengasyikkan di telinga Aniza itu. Lalu tiba – tiba Friska menyambar ocehan guru BP dengan lancangnya, hingga Aniza mengurungkan niatnya untuk mengutarakan argumennya kepada beliau.
            “Ibu! Sadarkah apa yang sedang ibu lakukan? Ibu telah termakan bualan anak – anak dan jelas saja ibu sendiri telah memfitnah kita semua!” tutur Friska dengan agak membentakkan suaranya dan kami semua kaget dengan ucapan Friska yang tidak sopan itu.
            “Tidak sopan sekali kamu telah berkata begitu terhadap gurumu. Friska, dengar baik – baik, ya! Kamu telah membentak gurumu. Dimana sopan santunmu sebagai murid SMP? Kamu sedang beranjak dewasa, Friska! Kamu bukan anak – anak lagi!” bentak guru BP itu dengan bantahannya.
            “Friska tahu, dong bu kalau Friska sudah dewasa. Tetapi, maaf saja bu! Kami..”
            “Sudah, nak! Jaga santunmu!” tiba – tiba Pak Asror, guru BP kelas 3 datang menghampiri kami dan memotong pembicaraan Friska seketika itu juga. Rupanya Pak Asror telah mendengar keributan kami di ruang BP.
            “Maaf, Bu Siska, mengganggu sebentar. Bolehkah saya ikut campur dalam masalah ini? Karena saya tadi tidak sengaja mendengar adu mulut di ruang BP ini, barangkali saja saya bisa membantu. Malu juga, kan? Kalau keributan ini sampai didengar murid – murid dan guru – guru lainnya?” lanjut Pak Asror dengan tenang dan sedikit lembut.
            “Iya, pak, silahkan ! Saya sudah bingung harus berbuat apa kepada 11 anak ini,” ujar guru BP yang satu ini dengan entengnya.
            “Sudah lah, bu! Bagaimanapun juga kita sebagai orangtua harus tenang menghadapinya. Baiklah anak – anak, bisa kalian jelaskan yang sebenarnya kepada bapak?” kata Pak Asror sembari menunjukkan kemurahan senyumnya.
            “Biar Niza saja yang jelaskan,” seketika Aniza berkata dengan tidak sadarnya, karena dari awal Aniza sudah tidak tahan ingin berkata – kata. “Niza dan teman – teman, tiba – tiba saja dipanggil ke ruang BP dengan Bu Siska yang sudah lama menunggu kami sedari tadi. Entah kenapa Bu Siska tiba – tiba saja mengomeli kami.” Kata Aniza dengan merendahkan suaranya, karena dia merasa Bu Siska sedang memelototinya.
            “Iya, lalu?” kata Pak Asror.
            “Tunggu sebentar, pak Asror! Sebenarnya saya mengomeli mereka karena kesalahan mereka yang sejak tadi saya panggil, mereka sama sekali tidak datang. Maka saya pun harus menunggu mereka lama sekali, selain itu saya telah mendengar bahwa mereka telah membuat sebuah geng. Yang ternyata mereka telah melanggar salah satu peraturan di sekolah kita ini, dimana itu adalah suatu hal yang sangat saya benci, kalian tahu itu?” kata Bu Siska yang membuat Aniza dan teman – temannya bosan mendengar perkataan beliau.
            “Sabar, Bu Siska. Saya harap sabar! Saya mengerti perasaan anda, tapi saya usulkan agar anda mendengar perkataan anak – anak dahulu.” kata seorang pria yang sangat baik hati itu, maka Bu Siska pun tersipu malu dengan perkataannya tadi. “Iya, nak! Silahkan lanjutkan yang tadi!”
            “Begini pak, bu sebenarnya. Sejak pertama kali kami semua masuk ke SMP ini, kami dipertemukan di sebuah kos – kosan. Karena kami yang tinggal bersama, di kos – kosan itu, sehinggan membuat kami semua terlihat sangat akrab seperti saudara. Nah, suatu hari ketika kami pulang sekolah bersama, kami merasa bosan dan memutuskan untuk bermain sepak bola di lapangan sekolah.” Cerita Aniza dengan penuh panjang lebar.
            “Oke. Lalu?” ujar Bu Siska sembari menganggukkan kepalanya.
            “Tiba – tiba anak – anak cowok kelas 7 yang melihat kami, mengajak untuk bertanding sepak bola dengan kami, beruntungnya kami semua ada 11 orang, kontan saja kami menyebutkan tim kesebelasan kami dengan nama Dakhaffanda yang berarti singkatan dari nama kami semua.” Lanjut Aniza.
            “Lalu, maksud dari kertas ini apa?” tanya Bu Siska sambil menjulurkan kertas tadi.
            “Oh, itu. Itu tadinya, karena saya yang paling mengerti dengan sepak bola, sehingga saya yang menggambarkan formasi sepak bola untuk tim kami yang hampir saja dikalahkan oleh anak cowok, Bu! Coba saja ibu lihat bagian belakangnya, ada gambar formasi sepak bola itu,” jelas Afi sambil menunjukkan kertas bagian belakangnya.
            “Oh, kalau begitu. Jelas saja ibu tidak mengerti di halaman belakang ini ada gambar apaan, ternyata formasi permainan sepak bola.” Kata Bu Siska dengan sedikit tawanya yang tersipu malu.
            “Terus apakah kalian menang bertanding melawan anak – anak cowok itu? Anak sepak bola itu, kan binaan bapak. Malu kan kalah tanding sama cewek – cewek kayak kalian?” sindir Pak Asror.
            “Iya, pak! Kami rasa anak – anak cowok itu hebat – hebat, tapi kami hanya beda satu gol loh, pak! Senangnya, kami diberi hadiah bola oleh anak – anak cowok itu.” Jelas Firda dengan sok imutnya.
            “Tapi, yang leih menggembirakannya lagi, kami sengaja memberi nama di bola itu dengan nama tim kesebelasan kami, dengan harapan kita tidak hanya sebuah kesebelasan, melainkan sebuah persahabatan yang tidak akan terpisah walau bagaimanapun,” sambar Asyi yang tiba – tiba angkat bicara.
            “Tuh kaan..ternyata kalian benar saja ingin membuat sebuah geng,” kata Bu Siska yang kembali bersikap sinis.
            “Bapak mengerti, kok keinginan kalian!” kata Pak Asror. “Bukan maksudnya begitu, Bu! Wajar saja, mereka sudah lama tinggal bersama tanpa orang tua yang menjaganya. Bapak sungguh mengerti maksud persahabatan kalian, bukanlah sebuah geng. Tetapi, ada baiknya jika kalian pun ikut serta solidaritas dan berkawan dekat dengan teman – teman kalian yang lainnya, agar teman – teman kalian yang sebenarnya menyimpan iri kepada kekompakan kalian, tidak berburuk sangka lagi. Kalian mengerti, kan maksud bapak? Bagaimana Bu Siska?”
            “Iya, Pak saya mengerti. Maksud saya juga seperti itu, kok!” jawab Bu Siska yang semakin malu dan anak – anak pun mengangguk seraya tertawa riang. Sehingga mereka tidak lagi membuat kegaduhan yang memanas di ruang BP itu, melainkan kegaduhan keceriaan.











Secangkir Cinta di Sudut Kafe
(Riza Rahmah Angelia)

            Ini hujan yang penghabisan. Begitu tipis dan sejenak. Tapi, aku tetap membawa payung ibu yang berat, antilipat dan berwarna – warni bak pelangi, dengan langkah kakiku yang manja dan tergesa – gesa sambil membawa selembar kertas yang berisi sebuah puisi karyaku sendiri. Langit yang jarang sekali memuntahkan airnya itu, menjadi begitu gelap di penghujung hari ini yang terlihat oleh dua bola mataku.
            Sebuah kafe di pojokan jalan sepertinya mengundangku untuk berteduh sejenak. Mungkin secangkir teh hangat yang pastinya berharga tak masuk akal bisa menghangatkan badanku, pikirku. Aku segera memesan secangkir teh yang sudah kubayangkan dari tadi dengan tubuh yang menggigil membuat pelayan kafe di sana, iba melihat diriku yang mungil ini sendirian menggigil. Secangkir untukku datang, aku pun menyeruputnya dengan merasakan kenikmatan suasana kafe dibandingkan dengan suasana dingin dan kulihat dari kursi yang sengaja kupilih dekat kaca yang menghadap ke luar, sehingga aku bisa melihat suasana yang sepi di luar sana, akibat guyuran hujan sore – sore.
            Secangkir teh dan sepotong pie nangka di hadapanku pun tandas juga. Langit kembali terang ketika kulangkahkan kaki keluar kafe. Aku sudah berjalan cukup jauh dengan payung cantik ibuku itu, dan aku berbalik lagi mengingat selembar kertas puisiku yang tertinggal di sana. Aku sungguh panik, “Itu dia kertasku!” pekikku.
            Dari depan kaca kafe terlihat sesuatu yang mengesankan. Pengunjung kafe tampak berwarna – warni seperti ikan tropis dalam aquarium,  kulihat seorang lelaki yang cukup menarik sedang menempati mejaku tadi, lelaki itu seperti sedang mencorat – coret sesuatu sambil sesekali tangannya memijit – mijit kalkulator. Aku melangkah masuk dan mendekati seorang pria yang tiba – tiba saja meletakkan ransel besarnya di dekat kakiku.
            “Maaf, saya...” aku bersuara. Ia mengangkat wajahnya. Oh, aku salah! Ternyata ia bukannya cukup menarik tetapi sangat menarik.
            “Tidak bisa! Duduklah di tempat lain saja, saya sedang sibuk,” dengan nada galaknya, keketusannya itu tidak mampu mengurangi daya tariknya tetap sembilan puluh nilainya bagiku.
            Aku mencibir dan langsung saja aku angkat kaki dari hadapan pria itu. Kutinggalkan sebuah kertas yang berisi puisiku itu, yang ternyata sudah menjadi curahan angka – angka pria tersebut, toh aku juga merasa puisi buatanku itu tidaklah sebagus dan seberharga Chairil Anwar. Kulihat kebelakang sekali lagi untuk meyakinkan bahwa wajahnya memang sangat menarik, namun pria itu tetap tidak peduli dengan sekitarnya dan makanan serta minuman yang ada di hadapannya. Dia masih sangat terlihat asyik memijit kalkulatornya itu.
            Keesokan harinya, aku kembali ke kafe itu dan menempati mejaku kemarin yang seperti sudah menjadi tempat yang strategis bagiku dengan segala inspirasiku, kucoba untuk menulis puisi lagi di sebuah notesku. Saat sebuah bayangan besar menggelapi notesku, aku mengangkat wajah, lelaki sembilan puluh kemarin rupanya sedang berdiri di sisiku dengan pandangan menuntut.
            “Tidak bisa. Hari ini meja milikku!” kataku dengan demonstratif aku langsung meluruskan kedua kakiku ke kursi yang ada dihadapanku dengan maksud agar dia tidak bisa merebut tempat yang sudah kutempati itu.
            Ternyata pria itu seperti terpaku melihat notesku, seakan dia menghiraukan perkataanku tadi. Segera kututup notesku, karena aku belum mengizinkan seseorang membaca puisi karyaku, yang menurutku itu tidaklah bagus, apalagi orang asing yang tadi sangat terkejut melihat notes yang berisi puisiku seperti ingin bersiap mengeluarkan kata – kata hinaan kepada puisiku.
            “Kau tidak boleh dengan lancangnya membaca notesku ini!” nada suaraku seakan aku sedang meredam amarahku.
            “Sudahlah, sudah kubaca semua. Gadis kesepian di sudut kafe, itu kan judulnya?” kata – katanya yang semakin membuat daya tariknya bertambah nilai satu setengah bagiku.
            “Bagaimana kalau aku menemani minum teh dengan gadis yang sedang kesepian di sudut kafe ini? Karena aku ingin sekali mengenal dengan seorang gadis yang  membuat kisah tentang cinta di ujung penghujan. Tenanglah! Kita sudah impas, kok!,” katanya sembari menyingkirkan kakiku dari kursi depanku.
            “Baiklah kau boleh duduk di tempat strategis milikku ini. Oh, ya tadi kau bilang apa? Cinta di ujung penghujan? Itu seperti puisi yang pernah kubuat,”aku sangat terkejut dengan perkataannya.
            “Sudah kuduga, tulisan ini sama dengan tulisan pada notesmu. Jadi, ini puisi buatanmu?” tanya pria itu dengan memberikan selembar kertas yang tak sengaja kutinggalkan di atas meja ini kemarin.
            “Tentu saja!” kataku dengan sangat terkejut bila dia akan mengembalikannya.
            “Ternyata kau kemarin menghampiriku ingin mengambil kertas milikmu ini. Begitukah?” tanya pria itu dengan nada lugunya.
             “Emmm.. iya begitulah. Tapi... aku sudah tidak butuh itu,” nada pelan, dengan kepasrahanku.
            “Loh, memang kenapa? Apa karena aku sudah merusakkan kertasmu ini menjadi sebuah kertas otretan? Hampir saja aku buang, kalau aku tidak membaca halaman depannya. Maaf, ya?” tanyanya lagi dengan sangat penasaran.
            “Hahaha.. Bisa jadi itu alasannya. Tapi tak apalah ambil saja, kalau kau mau membuangnya, buang sajalah! Aku sudah tidak peduli dengan itu, juga dengan notesku ini, itu sudah tidak berguna lagi!” nadaku dengan agak kesal dan menyesal kalau pria itu telah mengetahui puisi buatanku itu.
            “Maksudmu apa? Karyamu sungguh bagus, aku sangat terkesan. Ketika ku lihat beberapa bait puisi saat aku akan membuang kertasmu yang sudah kulukis – lukis dengan angkaku itu, aku langsung mengurungkan niatku untuk membuatnya, karena setelah kubaca itu sebuah kisah yang menyentuh dalam bentuk puisi karya gadis kesepian di sudut kafe,” ceritanya yang membuatku tersenyum dengan kata – kata akhirnya itu.
            “Terima kasih atas pujianmu itu. Aku menjadi bersemangat lagi dan sekarang aku bukanlah gadis kesepian di sudut kafe lagi, karena hari ini dan detik ini juga aku sedang berbagi meja dengan pria yang baru saja memuji karyaku,” nada bicaraku seakan memperlihatkan bahwa jiwa puitisku akan segera bersemangat kembali, pria itu tertawa dengan perkataanku tadi.
            “Maaf, kertas ini sudah jelek. Biar aku ganti dengan yang baru dan akan kusalin lagi ini semua. Tenang, aku akan bertanggung jawab,” katanya dengan perasaan penuh bersalah.
            “Tidak apa – apa kok. Buatmu saja, anggap saja itu sebuah kenang – kenangan dariku,” kataku dengan nada lembut.
            “Okelah, terima kasih. Aku yang akan bayar ini semua, deh. Boleh, kan?” tawar pria itu yang menjadikannya bertambah nilai tiga koma lima atas kebaikannya.
            Entah apa yang kurasakan di sore yang cerah itu adalah bercampur aduk, seperti ku tak bisa menceritakannya dengan kata – kata. “Jadi puisi di kertas ini, apakah kamu membuatnya berdasarkan pengalamanmu?” tanya pria itu tiba – tiba bertanya kepadaku.
            “Tidak. Aku hanya mengada – ada dan tidak pernah mengalaminya. Oh, iya aku baru ingat. Maaf, ya! Aku harus pergi, karena aku ada urusan dengan temanku,” kataku yang tadinya sedang menikmati suasana yang hampir romantis itu menjadi terburu – buru.
            “Baiklah. Besok aku tunggu kamu di tempat ini lagi. Karena aku tidak sabar menunggu kamu menyelesaikan puisimu yang berjudul Gadis yang Kesepian di Sudut Kafe itu,” katanya dengan penuh harap dan aku pun hanya tersenyum dan mengangguk.
            Sore esoknya, aku menepati janjiku untuk datang ke meja di kafe itu yang sepertinya meja itu kini telah menjadi milik kami berdua pikirku. Kutunggu dia dengan penuh kesabaran sambil membawa notesku yang berisi puisi pesanannya. Satu jamu, dua jam telah melatih kesabaranku untuk menunggu pria yang sudah naik level menjadi sembilan koma lima bagiku. Hari yang sudah hampir senja, menyadarkanku kalau pria itu telah mengingkari janjinya, aku sungguh bingung apakah aku akan mengurangi nilainya di pandanganku menjadi pria delapan koma lima? Tapi, aku mencoba untuk berpikir positif tentangnya.
            Ku datang lagi keesokan sorenya, dengan harapan dia akan mengganti hari kemarin dengan hari ini. Kulihat di luar sedang hujan rintik – rintik, membuat pikiran positifku tentangnya menjadi berubah perlahan – lahan. Padahal ku ingin berbincang – bincang tentang puisi buatanku ini dan sekarang aku berpikir untuk tidak menunggunya lagi. Aku harap aku akan bertemu dengan pria sembilan koma lima itu di lain waktu yang tidak kusangka, kata – katanya  yang terus terngiang di otakku membuatku semakin semangat untuk membuat puisi dan menerbitkannya di media – media cetak dan berharap juga dia akan membaca puisiku dan akan kembali menemuiku, agar aku bisa mengenal dan mengetahui nama asli pria sembilan koma lima yang sungguh sangat misterius itu.



Api yang Takkan Pernah Padam
(karya: Amalia Rizki R.)

Hamparan rumput hijau terbentang luas di hadapanku. Aku menghela nafas, menhirup kesejukan di ruang hijau itu. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk memunculkan sesosok yang sangat aku rindukan, ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu, maaf Haidar baru sekarang dapat menjenguk kalian,” ujarku lirih di tengah-tengah desir angin yang menyapu tempatku kini berpijak.

*****
18 tahun lalu…
“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang cita-cita, ya. Nah, Dennis, apa cita-citamu, sayang?” tanya wanita itu, Bu Diana dengan lembut pada seorang anak lelaki yang duduk di sebelahku.
“Dennis mau jadi pilot, Bu Guru! Biar nanti Dennis bisa mengantar orang-orang ke Antartika,” jawab Dennis riang. Bu Diana hanya tersenyum seraya menepuk kepala Dennis dengan lembut.
“Bagus, Dennis. Nah, kalau haidar ingin jadi apa saat sudah besar nanti?” tanyanya padaku seraya terseyum.
“Haidar ingin jadi pemadam kebakaran, Bu. Soalnya ayah Haidar kan pemadam kebakaran. Nanti Haidar yang memadamkan apinya.  Terus orang-orang di dalamnya Haidar selamatkan, Bu!” kataku bangga. Bu Diana tersenyum padaku
*****.
Ya, sedari aku masih di taman kanak-kanak, aku memang ingin menjadi seperti ayahku yang seorang pemadam kebakaran. Setiap hari, selalu saja dengan wajah bangga aku menceritakan ayahku yang berhasil memadamkan api saat ada kebakaran besar dan menyelamatkan orang-orang di dalamnya. Bahkan, aku berkata bahwa ayahku adalah jelmaan dari Superman.
Saat usiaku 15 tahun, mejelang ujian kelulusan,  sebuah bencana datang menimpa keluargaku. Perusahaan tempat ibuku bekerja mengalami kebakaran hebat. Kebakaran yang terjadi pada saat jam sibuk itu mengakibatkan kerugian yang tak terkira.
Sayangnya tim pemadam kebakaran datang terlambat saat itu. Mereka baru datang saat api berangsur-angsur padam. Ibuku dan puluhan karyawan yang menjadi korban langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beberapa di antara mereka yang menjadi korban mengalami luka bakar yang serius, begitu pula ibuku. Luka bakarnya dapat dibilang parah karena hampir seluruh tubuhnya melepuh akiba terkena jilatan api. Ya, ibuku sempat terbungkus oleh api saat ingin menyelamatkan diri dan terjebak dalam kobaran api yang sangat besar.
Sejak itulah wajah ibu berubah. Parasnya yang dulu jelita bak putri raja kini berubah menjadi itik buruk rupa. Dan sejak saat itu pula aku membenci ayah. Aku berpikir bahwa ayahlah yang menyebabkan wajah ibu seperti itik buruk rupa. tak lama setelah insiden kebakaran itu, ayah menceraikan ibu. Lalu ia menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik dan bergelimang harta.
Saat menginjak bangku SMA, ibu datang ke sekolahku untuk mengambil hasil belajarku selama satu semster. Masih kuingat dengan jelas, beberapa temanku bertanya heran padaku seraya menunjuk ke arah ibuku yang sedang berbicara dengan wali kelasku.
“Dar, itu ibumu?” tanya salah satu dari mereka. Aku mengangguk. 
“Yang benar? Kukira dia pembantumu. Soalnya mukanya buruk sekali, seperti pembantu,” kata mereka dangen santainya.
Sakit.
Aku hanya tersenyum pahit mendengar ucapan mereka tentang ibuku. Dan malam harinya aku menceritakan kejadian tadi di sekolah pad aibu. Ibuku hanya tersenyum.
“Haidar, kamu malu memiliki ibu yang buruk rupa seperti ibu, ya?” tanya ibuku seraya tersenyum. Namun aku dapat merasakan sakit hatinya dalam nada suaranya.
Aku menggeleng kuat. “Tidak, Bu. Haidar tidak malu, kok!” kataku.
“Lalu?” tanya ibuku.
“Hmm…. Ibu mengapa tidak operasi saja? Bedah plastik. Kan sekarang bedah plastik juga tak terlau susah, Bu,” ujarku. Aku menatap ibu takut-takut, takut ia tersinggung dengan kata-kataku. Namun ibuku tak merasa seperti itu. Beliau justru tersenyum dan megelus lembut rambutku.
“Ibu tidak ingin operasi, Haidar. Biar saja wajah ibu seperti ini.Biaya untuk operasi kan bisa dipakai untuk biaya kuliahmu nanti. Lagipula ibu sudah pernah merasakan menjadi wanita cantik. Saat ini ibu ingin menjadi itik buruk rupa, tapi di sini…” ibu menempelkan tangannya di dadaku, “…di sini tetap harus cantik,” ujar ibuku seraya tersenyum manis. Aku pun turut tersenyum. Ya, Ibu. Kau akan tetap cantik sampai kapanpun, batinku.
*****
Siang itu, seminggu setelah UN SMA…
“Haidar, kemari, Nak. Ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganmu,” ujar ibuku. Aku menoleh dan beranjak meninggakan sementara aktivitasku mengerjakan web-design project yang kini menjadi mata pencaharian di waktu luangku.
“Ada apa, Bu? Sepertinya penting sekali,” ujarku seraya megikuti ibu ke ruang tamu.
“Haidar, maaf ibu lancang tidak meminta persetujuanmu melakukan ini. Tetapi, ini semua untuk kebaikan kamu,” ujar ibuku. Aku memandang Ibu heran.
“ibu ingin menikah lagi? Haidar tidak melarang ibu, kok. Itu hak ibu,” uajrku. Ibu hanya menggeleng.
“Bukan tentang itu, tentang karirmu nanti,” jawab ibu. Aku terdiam. Karirku? Batinku.
“ibu mendaftarkanmu ke pemadam kebakaran kota, Haidar,” ujar ibu pelan.
“Eh?”
“Ya, Haidar. Ibu telah mendaftarkanmu ke dinas pemadam kebakaran. Ibu tahu kamu memang belum kuliah. Tapi ibu sudah mendaftarkan namamu untuk masuk ke sana saat kau lulus kuliah nanti. Mengingat kau adalah putra dari Pak Asyhab, pemadam terbaik yang telah mempertaruhkan nyawanya dalam kebakaan hebat sebulan lalu. Bagaimana?” jelas ibuku.
Aku terdiam. Kembali ingatanku memunculkan tayangan televisi yang memberitakan bahwa seoarang anggota pemadamkebakaran tewas terbakar saat mencoba menerobos kobaran api yang sangat dahsyat di sebuah hotel ternama. Dan tak lama setelah berita itu turun, seorang rekan ayah datang ke rumahku dan mengatakan bahwa ayah telah meninggal dalam kobaran api di hotel itu.
“Maaf, Bu. Bukannya Haidar tidak menghargai usaha ibu, tetapi Haidar tidak ingin menjadi anggota pemadm kebakaran, Bu. Haidar telah memikirkan masa depan Haidar, Bu,” ujarku.
“Begitukah? Sayang sekali. Padahal almarhum ayahmu ingin sekali kau menjadi seperti dia, Nak. Beliau selalu terseyum saat membayangkan kau memakai pakaian pemadam kebakaran. Dan beliau berharap semua itu menjadi kenyataan,” ujar ibu lirih. Pandangannya menerawang, jauh sebelum insiden kebakaran di perusahaan ibu.
Aku menghela nafas. “Bu, aku tidak ingin menjadi seperti ayah. Aku ingin menjadi diriku, bukan bayang-bayanag ayah. Aku memilih jalanku sendiri, Bu. Aku tidak ingin mencelakakan orang lain, Bu,” jawabku.
“mencelakakan? Apa maksudmu?” tanya ibu heran. AKu terkejut ibu tak mengerti maksudku.
Amarahku meluap, tak dapat kubendung agi. Amarah yang selama 3 tahun ini tersimpan dalam hati, kini meledak.
 “Kebakaran 3 tahun lalu. Karena ayahlah wajah ibu seperti itu. karena ayah datang terlambat, wajah ibu seperti itu, Bu!” ujarku menahan emosi.
“ Haidar, jaga ucapanmu!” suara ibu berubah menjadi tegas.
“Dan ayah memang pantas mendapatkan itu. terbakar dalam kobaran api.”
PLAAAAAAAKKK!!!!!
Ibu menamparku.
Pipi kananku memerah. Ibu menatapku tajam. Matanya berkaca-kaca. Rasa marah, keasl, dan sedih bercampur di matanya.
 “Haidar! Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk membenci ayahmu! Wajah ibu seperti ini, semuanya Tuhanlah yang mengatur! Semua ini takdir Tuhan, Haidar. Semua ini bukan mutlak kesalahan ayahmu!” Ibu berusaha menahan tangisnya.
“Tapi ayah MENINGGALKAN kita, Bu! Ayah tak pernah lagi datang kemari untuk melihat keadaan kita! Apakah itu juga bukan salah namanya?!” tanyaku emosi.
“HAIDAR! JAGA UCAPANMU! WALAUPUN AYAHMU MELAKUKAN KESALAHAN, DIA TETAP AYAHMU, HAIDAR!!” bentaknya. Baru kali ini Ibu membentakku. Dan ia pun beranjak dari ruang tamu.
*****
Siang itu, aku kembali ke rumah dengan langkah yang sengaja kupercepat.  Aku tak sabar untuk sampai di rumah dan mengabarkan hasil kelulusanku pada ibuku. Ibu pasti bahagia saat mengetahui bahwa hasil UN-ku tertinggi di sekolah, batinku.
Namun tampaknya kebahagiaanku hanya sampai di sana saja. Dari kejauhan, kulihat orang-orang berkerumun di dekat rumahku. Dan samar-samar kulihat kotak baja merah di antara kerumunan itu. Nafasku tertahan. Aku merasakan sesuatau yang buruk terjadi di dekat rumahku. Dengan rasa penasaran yang menggebu-menggebu, aku berlari menuju kerumunan tersebut.
Ya Tuhan. Apa yang terjadi?! Aku menatap bangunan di hadapanku dalam diam. Kaget dan tak percaya.
Rumahku dan beberapa rumah di sebelahnya tenggelam dalam kobaran api.
“Haidar! Syukurlah kamu sudah pulang!” seru seseorang yang menyeruak dari tengah kerumunan, Mbak Anne, tetanggaku. Tampaknya dia melihatku dari kejauhan.
“Ada apa, mbak? Mengapa—“ ucapanku terputus.
“Haidar, Ibu kamu…” mbak Anne menatapku sedih. Tiba-tiba ia menangis di depanku.
“Mbak, Mbak… Ibu saya kenapa, Mbak? Ada apa dengan ibu saya?” tanyaku. Jantungku berdetak sangat cepat.
“Ibu kamu meninggal, Haidar… Beliau keracunan gas karbon dari kebakaran itu…” ujarnya di sela-sela tangisnya.
Aku terpaku.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
*****
Kini, 5 tahun berlalu sejak kedua orang tuaku meninggal akibat kebakaran. Aku belajar menerima semua kenyataan yang selalu kupungkiri selama ini.
Hamparan rumput hijau terbentang luas di hadapanku. Aku menghela nafas, menghirup kesejukan di ruang hijau itu. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk memunculkan sosok yang sangat aku rindukan, ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu, maaf Haidar baru sekarang dapat  menjenguk kalian,” ujarku lirih di tengah-tengah desir angin yang menyapu tempatku kini berpijak.
“Maafkan Haidar, Ayah, Ibu. Sekarang Haidar sedang meniti karir. Ya, seperti harapan ayah dan  ibu. Haidar akan  terus berusaha memadamkan api yang berkobar. Karena Haidar tahu, tidak ingin aada orang lain yang merasakan kesedihan yang sama dengan Haidar, kehilangan orang yang kita cintai dalam kobaran api. Tetapi Haidar juga tahu, ada api yang tak bisa Haidar padamkan, Ayah, Ibu. Yaitu api semangat yang akan terus berkobar dalam diri kita sendiri dan api cinta di antara kita yang menyatukan kita yang tidak akan padam termakan waktu,” ujarku seraya tersenyum di depan makam ayah dan ibuku.
“Ayah, Ibu, Haidar pergi dulu. Haidar  akan tetap menjenguk ayah dan ibu. Api kita tidak akan pernah padam, Ayah, Ibu,” ujarku seraya beranjak dari tempatku.
Samar-samar, di kejauhan, aku melihat mereka. Sosok ayah dan ibuku, berdiri berdampingan dan tersenyum  padaku. Dan mereka pun menghilang bagaikan debu tersapu angin. Aku tersenyum memandang tempat mereka berdiri tadi. Aku merasakan kesejukan dalam hatiku, hingga saat ini. Hingga aku menghembuskan nafas terakhirku.
*** TAMAT ***


(Riza Rahmah Angelia)

            Sepulang sekolah, Dira yang Nampak bingung mempersiapkan kata - kata untuk nanti malam, yang rencananya malam minggu ini ia akan menyatakan perasaanya terhadap Resha, teman sekelasnya. Aldo, teman dekat Dira membantunya menyiapkan sejuta kata - kata yang indah. Malamnya dengan pakaian serba hitam dan rapih, wangi parfum yang sangat menyengat wanginya, serta setangkai mawar merah yang Dira bawa. Malam itu Dira berdandan sangatlah sempurna, lalu bergegaslah Dira berangkat dengan motor ninja putihnya. Gue ga mau tau, kali ini gue harus berhasil nyatain perasaan ini, ga perduli apa kata dia, yang penting gue bakal nyatain ini perasaan  gumamnya dalam hati.
            Namun naas, sebuah lubang besar yang berada tidak jauh di depan motor Dira yang sedang melaju kencang, tidak mampu ia lewati. Telah terbayang olehnya atas kesuksesan yang akan ia lakukan di rumah Resha, akhirnya Dira terjatuh dari motor dan bajunya tersangkut di salah satu bagian motor itu yang membuat dirinya terseret motor besarnya itu. Dira koma dan tak sadarkan diri, padahal minggu depan Dira harus mengikuti Ujian Nasional di sekolahnya.
*****

            “Do, temani aku yuk jenguk Dira!” kata Resha yang menelepon Aldo tiba - tiba.
            Aldo terdiam sejenak. “Sa, lu tau ga? Dira kaya gini gara - gara lu,” katanya dengan emosi yang tak terkendali.
            “Kok kamu menuduhku seperti itu, Do? Saat kejadian itu kan aku sama sekali tidak ada disana?”
            “Ya udah. Pokoknya gue tunggu lu di gerbang rumah sakit, ntar gue tunjukkin kamar Dira,” kata Aldo mengakhiri pembicaraannya di telepon.
            Aldo yang telah menunggu datangnya Resha yang agak lama di depan rumah sakit sudah sangat kesal, karena dirinya selalu berfikir bahwa teman dekatnya menderita begini itu karena Resha dan semuanya adalah salah Resha. Lalu Resha pun datang dengan langkah agak tergopoh – gopoh.
            “Cepat sedikit dong! Naik odong – odong apa ya? Gue gak suka nunggu lama, tau?” bentak Aldo kepada Resha yang sudah tidak tahan dengan kata – kata Aldo sedari tadi.
            “Iya, Do. Maksud lo apa sih? Udah nuduh gue,  bentak – bentak gue lagi. Apa – apaan sih? Emang salah gue apa, Do?” tanya Resha sembari berjalan dengan Aldo di sampingnya.
            “Waktu itu. Lu emang ga ada disana, tapi lu tetap gue anggap bersalah. Lu ga tau kan apa yang terjadi sama Dira sekarang? Lu juga gak tau kan semalem itu Dira mau kemana? Kerumah lu tau!”
            “Tolong, Do! Ceritain yang jelas! Gue ga ngerti.”
            “Jadi begini, si Dira pengen nyatain cintanya ke lu, Sha. Tapi ternyata malang, dia malah kecelakaan dan akhirnya Dira koma, dan lu tau? Ini sudah hampir seminggu, Sha,” sentaknya saat itu yang akhirnya mereka sudah sampai di depan kamar Dira.
            “Juga lu ga tau, kan Sha? Sebenarnya Dira.........” lanjut Aldo. Suara yang hampir terisaknya itu terhenti ketika ibu Dira keluar dari kamar inapnya Dira.
            Mereka mendapati ibunya Dira yang baru saja duduk didepan kamar inapnya dengan keadaan wajah yang mungkin sudah tidak ada harapan untuknya ceria kembali, mereka pun segera menghampirinya.
            “Tante, tante kenapa menangis? Dira kenapa tan? Dira baik - baik saja kan?” tanya Resha dengan nada sopannya.
            “Resha!” tiba – tiba ibu Dira memeluknya dengan penuh isak tangisnya.
            “Jangan pernah lupakan Dira, nak! Jangan pernah buat hatinya terpuruk ya, nak! Tante mohon, dengan sangat, nak!” lanjutnya.
            “Iya, tan. Resha janji gak akan lupakan Dira, tan. Tetapi Dira kenapa, tan?” tanya Resha penuh penasaran.
            “Dokter bilang, jantung Dira sudah diambang tidak normal, jantungnya semakin melemah. Kalau Dira sadar dari komanya pun, dia akan..... Dira akaaan.....lumpuh, Sha,” jelas Aldo yang tiba – tiba saja menitikkan air matanya, kemudian ibu Dira menangis histeris.
            Resha benar – benar tidak menyangka dengan semua kejadian ini. Resha benar – benar menyesal.
                    Setelah kematian Dira, semua berduka, terutama Resha. Dari kelas 1 SMA Resha sangat menyukai Dira, karena ke khasan sikapnya membuat Resha semakin susah melupakan Dira. Resha ingat saat mereka sedang nonton bioskop bareng.
Dira : “sha liat deh, idungnya pesek banget”
Resha : “iiih kamu jahat, jangan nyinggung masalah pesek lah”
Dira menatap kearah Resha dengan penuh kehangatan
Resha : “ih jelek jangan liatin aku seperti itu deh” sambil mengalihkan mukanya, berharap supaya Dira tidak menatapnya lagi.
                    Dira malah menatap lebih dalam lagi, muka Dira hanya berjarak 1 jengkal dari muka Resha, Resha menjadi salah tingkah dan mukanya nampak merah dibuatnya.
Resha : “Dir”
Keadaan hening, beberapa menit kemudian