Jumat, 06 Desember 2013

Essay-Opini


Birrul Walidain
Dari Abu Hurairah ia berkata;
“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?" Beliau menjawab, "Ibumu", ia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu", ia pun berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu" Ia pun berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu" [ HR. Bukhari; 5971, Muslim; 2548 ]
             Tidak asing dengan salah satu hadits yang membahas tentang berbakti kepada kedua orangtua (Birul walidain). Pengulangan perintah untuk berbakti terhadap keduanya ini adalah kewajiban yang harus didahulukan setelah hak Allah (ibadah). Tidak berbicara “Ah” dan kata-kata kurang sopan lainnya yang menghardik mereka secara fisik maupun batin. Berbicara dengan adab juga termasuk salah satu bentuk berbakti kepada kedua orangtua, selain menaati perintahnya selagi itu bukanlah bentuk maksiat.
            Jasa orang tua pasti dilakukan untuk kehidupan keluarganya terutama anak-anaknya, agar keluarganya yang menerima hasil jasanya itu bisa bahagia. Terutama ibu, ibu tak hanya berjasa untuk anak-anaknya membanting tulang seperti ayah, namun sadarkah kalian? Ada jasa yang lebih  dari itu semua, yakni seorang ibu yang rela berkorban dalam mengandung anaknya, kemudian menyusuinya. Oleh, karena itu semua jasa orang tua di kala anak masih kecil dan lemah perlu diingat dan dikenang untuk selamanya.
            Mengingat hal itu semua, Rasulullah SAW mengisahkan tentang 3 orang yang terjebak di dalam gua, kemudian mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal shaleh yang mereka lakukan agar Allah berkenan menolong mereka dari gua yang tertutupi batu-batu itu. Salah satu orang dari mereka menyebut amal shalehnya, “Aku memiliki orang tua yang telah usia lanjut, dan aku selalu mendahulukan kepentingan mereka dibandingkan keluarga dan hartaku, aku biasanya membawakan susu bagi mereka dan tidak membiarkan siapapun meminumnya kecuali setelah mereka minum. Aku melakukan ini semua karena mengharap ridha-Mu, apabila engkau menerima amalanku ini, maka keluarkanlah kami dari gua ini, Ya Allah."
Pada akhir cerita, setelah setiap orang menceritakan amal shaleh yang lainnya, maka akhirnya pintu gua yang tertutupi bebatuan akhirnya terbuka dan mereka akhirnya keluar dengan selamat. Nah, darisini dapat disimpulkan ketika kita dalam keadaan lemah dan buta akan pengetahuan, orangtualah yang bersedia mendampingi kita hingga kita berilmu, dan ketika kedua orangtua kita berusia lanjut dan lemah tak berdaya akankah kita membiarkannya begitu saja? Mengirimnya ke panti untuk mendapat perawatan yang kita anggap lebih baik?
Marilah kawan kita merawat orang tua kita sebaik-baiknya, dan senantiasa mendahulukan kepentingan mereka.  Merupakan suatu kesalahan bila kita mengacuhkan kepentingan orang tua yang seharusnya dijunjung tinggi dalam suatu keluarga. Orang tua memang membutuhkan materi tetapi masih ada yang lebih penting bagi mereka yaitu kasih sayang. Menyapa, menanyakan kabar, kesehatan, apa yang kita inginkan adalah kata-kata yang sering mereka lontarkan untuk anak-anaknya. Balaslah budi mereka yang walaupun mereka sebenarnya tidak membutuhkan itu, yang mereka inginkan adalah kebahagiaan anak-anaknya. Subhanallah!
Karena itu adalah hal sepele yang bila kita lakukan kepada mereka, namun itu akan berarti besar bagi keduaorangtua kita. Jagalah nama baik dan harta mereka. Kita juga termasuk harta mereka, maka jagalah diri kita dari segala bentuk tindakan yang tidak baik yang akan menyakitkan hati kedua orangtua. Berusaha meringankan beban mereka, baik secara materi maupun dari segi perasaan. Jangan tambah pikiran pekerjaan orangtua yang focus bekerja untuk anak-anaknya dengan kabar yang tidak sedap tentang anak-anaknya.
Allah telah menjanjikan kepada hambanya akan kewajiban kita terhadap birul walidain dalam keutamaannya :
1.   Sebagai penebus dosa
2.   Menambah keberkahan hidup
Sungguh, hak kedua orang tua sangatlah besar yang harus tertunaikan oleh anak-anaknya dan keutamaan berbakti terhadap keduanya tidaklah terhitung dan tidak terbatas adanya. Kecintaan terhadap keduanya dari anak-anaknya adalah sebenar-benarnya cinta, dan nasihat keduanya adalah semanfaat-manfaatnya sebuah nasihat.
Oleh karena itu penuhilah perkataan mereka dengan jawaban “Ya ayah, ya ibu” dan ciumlah tangan mereka dan kening mereka bila bertemu, karena itulah yang akan menentramkan hati kedua orangtua dalam keadaan apapun.

Simpulan 




Pemimpin Muslim tidak Sekularisme


Kekuasaan itu bukan sekedar memimpin dan memerintah orang lain, kekuasaan itu menunjukkan kemampuan seseorang untuk menerjemahkan keadaan dan menguasainya serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila jabatan hanya sebatas gelar, tetapi kekuasaan melampaui segalanya. Seorang pemimpin harus mampu memayungi dan melindungi, termasuk melindungi dirinya. Pemimpin bukanlah otoritas, namun ia mengetahui keadaan di sekitarnya dan mampu mengendalikannya. Muslim Negarawan tidak berfikir bagaimana menjadi seorang penguasa, tetapi bagaimana kita mampu menata dan mengendalikan sekitar, terutama diri kita. Pilar untuk kebangkitan yang perlu ditata dan dikendalikannya adalah negara dan rakyat.
”Negara Minus Negarawan” topik ini adalah topik yang pernah diangkat dalam salah satu acara tv di channel  tv swasta dengan narasumber Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi) dan Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Mahmud MD mengungkapkan bahwa negara ini perlu lebih banyak negawaran, mereka yang bekerja tanpa pamrih untuk bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongannya. Sementara, Anis Baswedan mengatakan bahwa seorang negarawan haruslah sejalan antara perkataan dan perilaku kehidupan sehari-harinya. Bukanlah orang yang hanya mengandalkan jabatan dan pencitraan dirinya saja. Itulah yang dibutuhkan dalam karaker seorang pemimpin yang didambakan.
Di negara kita ini, telah banyak orang-orang yang mendapat predikat ”negarawan”. Pengabdiannya dan bekerja sepenuhnya untuk negara, namun akhlaknya yang tidak sesuai memenuhi syariat islam, masih terdapat penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan tidak kuat iman, hal tersebut idealnya tidak bisa dijadikan seorang pemimpin.
Contoh di dunia adalah pemimpin Turki, yakni Mustafa Kemal Atatürk yang memiliki visi hidup untuk negaranya adalah sekularisme, dimana di Negara yang awalnya murni dengan budaya islam ini diminimalisir hingga seminimal mungkin oleh beliau karena sekularismenya tersebut. Niat baiknya adalah membangun Turki kembali. Namun, ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli yaitu, pelarangan penggunaan huruf Arab dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat diberlakukan. Sungguh miris memang, niat baiknya itulah yang tidak membuahkan hasil yang berarti malah mengundan perbuatan tercela masyarakat Turki.
Umat muslim yang negarawan lah yang memang dibutuhkan saat ini, dalam islam telah mengajarkan umatnya untuk menjadi seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi, pemimpin semua makhluk Allah. Dengan sifatnya yang kemanusiaan, gesit, kontributif seperti sifat-sifat Rasul dan sahabat-sahabatnya yang berhasil menaklukkan sebuah daerah demi islamisasi di dunia. Itu saja tidak cukup, satu hal lagi harus berpegang teguh memiliki konsistensi dalam mengemban amanah-amanah, niscaya kepemimpinan dengan cara tersebut akan totalitas dan membuahkan hasil yang berarti.

Source:
http://wasathon.com/humaniora/view/2012/04/06/melahirkan_muslim_negarawan